Blog Cerita Seru Paling Mantap

Tawa Sutra XXX (SUPER HOT)

Hari itu Dokter Budi kedatangan pasiennya sepasang suami istri, Pepi dan Sabria, dengan santai Dokter Budi mengangguk kepada Pepi dan Sabria yang dibalas dengan anggukan kedua orang itu. Dokter Budi tersenyum, keduanya pun membalas senyuman sang dokter. Kening Pepi berkerut membentuk angka 11 saat menyadari Dokter Budi tersenyum sambil melirikkan ekor matanya ke arah dada Sabria.

“Dok, gimana caranya biar istri bisa hot di ranjang?” Pepi bertanya serius kepada dokter Budi, sekaligus untuk mengalihkan ekor mata Dokter Budi yang terus mengintai tonjolan dada Sabria.

“Ooooh biar hoooot” ujar dokter Budi dengan mulut dimonyongkan dan suara dipanjang-panjangkan, sementara ekor matanya mengerling-ngerling mesum mengintai dada Sabria.

“plak…!!.ye, dokter becanda” Pepi menampar mulut Budi sambil menggerutu.

Dokter Budi sendiri misuh-misuh sambil memegangi bibirnya yang seksi itu, matanya sedikit juling akibat tamparan mendadak yang mampir saat ekor matanya sedang melirik kearah tonjolan buah dada yang menggiurkan.

“Gimana dong solusinya dok?” tanya Pepi lagi

“Gampang, itu… olesin sambel aja yang banyak… ntar juga hooooooot” gurau dokter Budi lagi

“Eeeeh… becanda… becanda…” seru dokter Budi sambil cengengesan demi melihat tangan Pepi siap menowel bibir sexynya lagi, Sabria sendiri tampak sibuk menenangkan Pepi yang tampak emosi.

“Nah, pep” kata dokter Budi akhirnya,

“sebenarnya gimana cara kalian bercinta sih? kok istri seseksi Sabria sampe ngga bisa hot?”

“Waaah, dok… malu dong kalo di ceritain” kata Pepi sambil saling cubit menahan malu dengan Sabria.
Dr. Budi

Dr. Budi

“Ye… gimana mau kasih solusi kalau ngga tau masalahnya,” omel dokter Budi, “makanya rambut itu ditaro di kepala, bukan di dagu” celetuknya lagi dan berakibat bibir sexynya kembali dicium tangan Pepi

“Udah ah… udah,” sergah dokter Budi, “mau diobatin kaga?”

“Iye….dok, iyeeee…”, omel Pepi.

“Gini dok, saya udah coba bermacam gaya, teknik, buku, daaaan lain sebagainya, tapi bini saya ngga hot juga dok, gimana dong?”

“Wah, berat”, kata dokter Budi sambil manggut-manggut kaya profesor,

“saya harus lihat praktek langsungnya”

“Haaaah? yang bener aja dok, masa saya harus ngentot di depan dokter?” sembur Pepi

“Soalnya kasus anda unik sekali, saya harus yakin.”

“Ah, ngga ah. Ngga mau.”

“Ya udah, saya ngga bisa bantu”

“Yee dok, masa harus begituan di sini sih?”

“Supaya saya yakin kalau Sabria itu frigid, bodoh”

Pepi mesem, Sabria tampak kikuk, dokter Budi bergaya ala James Bond, pegang dagu sambil menggut-manggut kaya burung kaka tua.

“Ya, oke deh dok…, tapi ada syaratnya saya mau lihat dulu pasangan yang sudah sukses, yahh, minimal saya harus tahu dulu successful storynya dong” kata Pepi panjang lebar sambil menatap dokter Budi dengan tatapan mata curiga.

“yawdahhh… kamu ikut saya ke belakang…, tapi Sabria tunggu di sini yaaa!”

“oke lah…, kalau begitu…, ehh emang mo Dok ?? entar kalau saya sampe diapa-apain gimana??”

“mau juga gua bini lu yang gua apa-apain , bukannya elu dodolll…!!”

“sorry dokkk,jangan marah gitu dooonggg he he he”

Pepi mengikuti Dokter Budi dari belakang,

“ARGGHHH.. ARGGGHHHH… ARGGGG…!!”

Tiba-tiba Pepi dikejutkan dengan suara erangan keras yang misterius.

“waduhh…, suara apaan itu dok ?? “

“ini.., euhhmmm…itu, pasangan yang kelewat sukses.” Dokter Budi menggaruk-garuk kepala.

“Kelewat sukses ?? sukses gimana dok ??coba saya liat…”

Dengan hati-hati Dokter Budi membuka pintu kamar di mana terdengar erangan keras seorang pria tersebut. Pepi melongokkan kepalanya mengintip dari balik pintu kamar berukuran 3 x 4 meter, mata Pepi mendelik, kedua lututnya serasa goyah dan gemetaran, keringat dingin seketika mengucur membasahi punggung dan dadanya.

“Heggghhh.!!Egggggkkkhhh…!!, ENnnnGAHHHH…!!”

“hi hi hi hi hi.. hi hi hi hi hi Amingggg… I luv uuuuuu”

Seorang laki-laki bertubuh kurus menggelepar tidak berdaya dibawah tindihan seorang wanita bertubuh gemuk berlemak, wanita itu berteriak – teriak histeris sambil cekikikan dengan posisi woman on top, ranjang itupun bersuara kreketan karena kelebihan beban.

“AKHHHH… Patah…!! Patah gua PRETTTT…!! PRETTTTY…!!”

Aming menjerit, kedua matanya membeliak-beliak, tangannya berusaha menahan gerakan Pretty yang tengah asik menaik turunkan pinggulnya.

“Krekettt… Kreketttt…!! KRAKKKK…. BRAKKKKK…!!MAMPUSSS…!!“

Aming berkelojotan di bawah tindihan tubuh Pretty Asmara saat ranjang itu rubuh.

“Haduhhhhh…., leher gua Dokkkk….!!” lidah Pepi terjulur saat lehernya terjepit oleh daun pintu.
Pepi

Pepi

“E-ehhh, sorry, sorrryyy, gua kaget…., leher lu nggak apa-apa Pep??”

Dokter Budi buru-buru membebaskan Pepi.

“Nihhh…., yang nggak apa-apa..”

Pepi melayangkan cakarnya hendak menggaruk wajah Dokter Budi, dengan reflek dokter kita memalangkan lengannya di depan muka untuk memblokir cakaran Pepi, AUHHH…!! Dokter Budi menjerit kemudian meringis saat Pepi menggenggam sesuatu yang lain, sepasang buah di selangkangan sang dokterpun menjadi korban remasan tangan Pepi.

“Dok, Gimana urusannya si Aming bisa barengan gitu ama si Pretty ?? “

“Gini Pep, mulanya Si Aming itu seorang cowok yang frigid, disentuh aja nggak mau, nahhh kebetulan saya punya stock si Pretty, yang gemar sekali menyentuh, makanya untuk menyeimbangkan unsur Yin dan Yang antara yang nggak mau disentuh dan yang rajin menyentuh, saya satuin aja si Aming dan si Pretty dan hasilnya yahhhhhh, seperti yang kamu liat, mereka berdua sulit sekali untuk dipisahkan…!! Biasa, cinta monyet….he he he he”

“Krettttt….!!”

Dokter Budi dan Pepi sama-sama terkejut saat pintu itu terbuka.

“dokterrrr…!! Pepiii, I Luv U Alllll… hi hi hi”

“Mampusss….!! “

Dokter Budi dan Pepi lari tunggang langgang melihat kemunculan Pretty yang hendak mendekap mereka.



“Ada apa ini!! Ada ap.. hahhh….??e-uh Bos tangan-in gih…, tar kalau u kalah baru sayah yang turun tangan……, maju Bosss, Ganbateeeee…!! Hidup Bos Shu…., prok prokkk prokkkk….”

Pimp Lord buru-buru mendorong punggung seseorang, bulu kuduk Pimp Lord langsung berdiri tegak tanpa dapat ditawar-tawar lagi. Pimp Lord bertepuk tangan berusaha memberi semangat pada Bos Shu yang ternganga di hadapan Pretty Asmara, bener-bener nggak banding jika ditimbang dari segi ukuran tubuh.

“Wahhhh, Glukk Ceglukk, WAduhhh…, B-be-berat ini…!!WHUZZZ…”

“Bossss…!! Mo ke mana Boss, Ceilehh, cepet amat larinya ?? !!“

Secepat kilat bos kita menyingsingkan kain sarung batik yang dipakainya hingga 5 cm di atas lutut, (ada sebuah tulisan kecil yang tertera, Made in INDONESIA), kemudian dengan reflek bos kita ngacir terbirit-birit dan melompati pagar tembok. Pretty Asmara melompat menerkam Pimp Lord yang meriang panas dingin saat menghindar dari pelukan terdahsyat abad ini.

“Kyaaaaaa…!! BOSSSS…!!! TUNGGGUUU BOOSSSSSSSSSSS…..!!”

Pimp Lord pun lari jatuh bangun menyusul bos kita, dibutuhkan sekitar 20 pria berotot seperti Ade Rai untuk menundukkan Pretty Asmara dan memasukkan wanita itu kembali ke dalam kamar bersama Aming yang masih termegap dan merayap di atas lantai.

“nggakkk.., mauuuu, tulungg euyyyy, Dokteeerrrrrrr…..!! aduh..! gelo siah.. PRETTTTTTYYYY!!@_@” terdengar suara Aming yang melengking saat daun pintu itu kembali tertutup dari dalam.



“ini sih nggak bisa Dokk!! masa hasilnya ancur begitu sihhh?! dasar dokter palsu, tukang tipu……, yin ama yang apaan, emangnya matematika + 1 ama – 1 disatuin jadi nol ?? nyang bener aja dokkkk…!!” Pepi mencecar dokter Budi dengan sejuta uneg-uneg di hatinya.

“Heehhh…, jangan sembarangan ya…jangan terlalu mudah memandang permasalahan dari satu sisi dan juga jangan pernah menyamaratakan satu masalah dengan masalah yang lain, sayakan sudah bilang masalah kamu itu beda!!! gitu saja koq repot, ayo ikut saya kasih liat yang lebih HOOT…!! Tapi inget, jangan menganggu aktivitas pasien saya!!!”

Dokter Budi merasa panas saat Pepi menghina dirinya. Pepi mengikuti Dokter Budi ke kebun belakang. Ketika melewati sebuah ruangan yang berisi beberapa layar monitor, Dokter Budi meminta ijin sebentar,

“Sori Pep, gua sekalian ngecek percobaan sebentar, mumpung lewat!” lalu ia memerintah asistennya yang sedang bertugas memantau, “Dul coba kamera di kamar Bang Haji“

Mereka pun tertegun melihat gambar yang muncul. Nampak Rhoma Irama kelabakan dan menggapai-gapai berusaha lepas dari Ivan Gunawan, Indra Brugman, dan Betrand Antolin yang mengeroyoknya.

“Wadoohh…teganya…teganya…tegan ya!! tulunnggg!! Tulungg!!” Rhoma berteriak-teriak ketika Indra menarik lepas celananya.

“Aduh bulu dadanya aja seksi…eh kakinya juga banyak bulu, duh gemesin deh!” sahut sang madam Ivan Gunawan sambil menarik satu bulu dada Rhoma.

“Bagus…semua ada bulunya!” kata Betrand menirukan gaya sang saja dangdut itu pada iklan Kartu As dengan gaya kemayu, “ekeu paling demen ama cowok berbulu soalnya ekeu kurang bulu”

“Hoek…kok jeruk makan jeruk gini? Percobaan apaan sih ini Dok?” tanya Pepy dengan muka mesem-mesem menahan mual.

“Ini percobaan tentang daya tarik pria berbulu dada terhadap kaum gay Pep, makanya gua minta mereka jadi sukarelawan” jelas Dokter Budi, “Yuk jalan lagi!”

Pepi geleng-geleng kepala atas kegendengan si dokter. Mereka berdua lalu meninggalkan ruang monitor sementara di layar kondisi bang haji Rhoma Irama semakin gawat karena diperkosa ketiga pria penyuka sesama jenis tersebut.

“Hegghh…awas lo Bud…janjinya gua mau dikasih Trio Macan, taunya malah Trio Maho…sungguh ter…la…luh!!” terdengar Rhoma berteriak memaki Dokter Budi.

Keduanya tiba di sebuah taman, Budi mengajak Pepi mengintip dari sebuah tempat yang tersembunyi. Birahi Pepi langsung meledak-ledak saat melihat Ririn Dwi Aryanti tengah duduk bugil sambil mengangkang di sebuah bangku panjang, Lyra Virna tengah asik memainkan jarinya pada belahan vagina Ririn.
Ririn Dwi Aryanti

Ririn Dwi Aryanti

“mbak Lyra.. ahhh…”

“ohhh, Ririn, sudah lama aku ingin mencium memekmu sayanggg” Lyra menciumi permukaan vagina Ririn.

“ah-ahhhhh hsssshhhhh….”

Tubuh Ririn tersentak saat mulut Lyra mencucup dan mengemut belahan vaginanya.

“clekkk.. clekkk clekkkkk….” ujung lidah Lyra mengorek dan menusuki belahan vagina Ririn, dengan tidak sabaran Lyra membuka bibir vagina Ririn yang memekik kecil saat bibir vaginanya dikuakkan dengan kasar. Ririn memejamkan kedua matanya rapat-rapat agar ia dapat lebih fokus menikmati jilatan-jilatan lidah Lyra yang menggerayangi tonjolan klitorisnya.

‘Cupphhh.. cuppphhhh… cupphhhh…” mata Lyra berbinar-binar kemudian bibirnya berkali-kali mengecupi bibir vagina Ririn

Pipi Lyra mengempot saat ia mengemuti bibir vagina ririn yang becek oleh lelehan-lelehan cairan vagina gadis itu, setelah puas mencicipi lezatnya vagina Ririn, Lyra duduk di sisi gadis itu, tangannya membelai buah dada Ririn, kontan saja Ririn membuka kedua matanya saat merasakan belaian Lyra. Mata Ririn beradu pandang dengan mata Lyra, bibir Lyra menghampiri bibir Ririn dan menempel dengan erat. Ririn membalas lumatan-lumatan bibir Lyra, tangan ririn merayap mengusap-ngusap permukaan paha Lyra bagian dalam kemudian jari tengahnya mencoblos liang vagina Lyra.

“ahhh, kamu nakal… “ Lyra tersenyum kemudian memangut bibir Ririn.

“Mbakkk…, punya mbak masih seret.. dan peret…padahal..”

“padahal apa sayanggg ?? “ Lyra tersenyum sambil mengusapi paha Ririn.

“emmm, tapi mbak Lyra jangan marah yaa…”

“enggak koqq, ngak akan marah ayo bilanggg…”

“Padahal, itunya Mbak kan pasti udah sering ditusuk ama titit…udah pernah melahirkan lagi”

“ha ha ha ha…, mau tau rahasianya ??”

“he-eh, mau, apa rahasianya Mbak ??”

“nahhh, kalau gituuuu…, kamu harus cobain yang namanya titit…”

Lyra meraih hpnya dan menelepon seseorang dengan nada menggoda.

“Hai.., gabung dong, kita ada di kebun belakang nihh…, dinginnnn”

“Nelpon sapa Mbak ?? “ Ririn bertanya pada Lyra.

“Titit buat kamu….”

“Maksud Mbak Lyra ?? “
Lyra Virna

Lyra Virna

Lyra tidak menjawab ia hanya tersenyum penuh arti. Setelah mendengar nada miss call, Lyra duduk di belakang bokong Ririn. Vagina Lyra mendesaki bokong gadis itu, ia membalut kedua mata Ririn dengan secarik kain, mata Pepi mendelik saat dua sosok tubuh menghampiri Ririn dan Lyra. Lyra mengangguk sambil tersenyum manis kepada kedua orang itu.

“ihhh…, siapa nih mbakkk…?? “

Ririn meronta saat merasakan jilatan-jilatan lembut di ujung putingnya dan ia tahu tidak mungkin kalau Lyra yang menjilati kedua puting susunya sekaligus dalam waktu yang bersamaan, pasti ada orang lain….

“Mbak Lyra…, lepasin saya Mbakkk.., aaa…”

Tubuh Ririn bergetar hebat menahan rasa nikmat yang merayapi tubuhnya, cumbuan dan jilatan yang datang silih berganti membuat Ririn serasa melayang ke awang-awang. Lyra tersenyum sambil ikut mencumbui batang leher Ririn, sementara kedua tangan Lyra masih mencekal pergelangan tangan gadis itu yang berusaha melakukan perlawanan, Pepi berusaha mengingat-ngingat dimana ia pernah melihat muka kedua orang itu, Plakkk..!! Pepi menepuk jidatnya sendiri, bukankan itu Ki Daus dan Sule…!!

“nnnnhhh, Mbakk Lyra…mbakkk….”

Ririn menyerah pada rasa nikmat yang mulai menjalari tubuhnya, ia merintih saat Ki Daus menyusu dengan lembut di puncak payudaranya, sementara Sule mencicipi belahan vagina Ririn Dwi Aryanti, batang lidah Sule terjulur panjang memanjakan belahan vagina Ririn yang becek oleh cairan vagina. Setelah Lyra yakin Ririn sudah terbius oleh rasa nikmat, barulah ia melepaskan kain yang membalut mata gadis itu.

“ahh ? Ki Daus…?? Suleeee…?? “

“ehh, neng Ririn, mulus banget bodynya…, lagi ngapain sih pake ngangkang-ngangang segala… ”

Sule cengengesan sambil mengusapi lekuk-liku tubuh Ririn, dengan sigap pria berambut pirang (palsu) dikucir itu menahan kedua kaki Ririn yang hendak merapat..

“Pokoknya Neng Ririn paling top dah…, saya nggak bakalan nolak kalau dinikahkan sama Neng Ririn…, “ Ki Daus mengedipkan mata kirinya dengan nakal.

“Enak ajaaa…,!! Situ sama Ruben aja, Neng Ririn kawin ama Sule aja ya.. Prikitiww” Sule membenamkan wajahnya keselangkangan Ririn Dwi Aryanti.

“Ahhhhhhh…!! S-sule.. enak Suleee.. awwww…”

Mata Ririn sampai terbalik ke atas hingga terlihat putihnya saja saat lidah Sule memijati klitoris gadis itu, rintihannya semakin keras saat Ki Daus meremas-remas induk payudaranya, Don Juan tua yang banyak pengalaman itu mesem-mesem dengan wajahnya yang mesum.

“he he he.., enak ya Rinnn…., aduhhh susu Ririn halus banget sampe ati Ki Daus deg-deg-an begini…”

“ati-ati.., ntar ngak kuat pingsan kiii..” Lyra tersenyum nakal.

“ya enggak lahh, Ki Daus mah kuat kalau soal beginian..hnyumm.. nyummmm”

Mulut Ki Daus mengemut – ngemut puncak payudara Ririn, gadis itu merintih keenakan, rasanya seperti sedang digigit-gigit oleh seekor macan ompong, apalagi saat Ki Daus semakin rakus mengemut-ngemut buah dada Ririn yang semakin membongkah padat, putting susunya pun semakin lancip menantang karena terangsang hebat, Lyra mengusapi rambut Ririn sambil mengecup-ngecup bahu gadis yang tengah dimesumi oleh Ki Daus dan Sule.

“aaa,, nnnhh.. nnhhhhh.. nhhhhh…”

Ririn merintih hebat, ada sesuatu yang membuatnya semakin resah, seperti kencing yang tertahan.

“Aaaaaa…!! Crrutttt.. cruttttt……”

Tubuh Ririn mengejang kemudian mengelinjang saat gelombang klimaks menggeluti tubuhnya, Sule dan Ki Daus menghentikan aktifitas mereka agar Ririn dapat lebih berkonsentrasi menikmati denyutan-denyutan puncak klimaks. Ki Daus mengusap keringat didada Ririn, sementara Sule mengambil posisi menyerang sambil mencekal dan mengangkangkan tungkai paha kanan gadis itu sementara tangan kanan Sule membimbing Sule Jr pada belahan garis vagina Ririn yang masih rapat.
Ki Daus

Ki Daus

“Bisa kaga Lee..?? “ Ki Daus bertanya cengengesan sambil meremasi buah dada Ririn.

“adu-duu-duhhhh. Ahhhhhh…” Ririn mengeluh saat merasakan desakan-desakan kepala penis Sule.

“AHHHHHHHHHHHH……!! “ gadis itu menjerit keras sambil menendang kepala Ki Daus yang sedang mengintip.

“NGUFFFHHHH…!!OAHHHH….KECROTTT T…!!.”

Wajah Ki Daus mirip seperti orang yang tengah mengalami puncak klimaks.

“makanya Kiii, jangan maen intip seenaknya, baru keserempet dikit aja udah ngecrott..”

Sule cengengesan sambil menekankan batang penisnya lebih dalam lagi pada rekahan vagina Ririn Dwi Aryanti yang meringis kesakitan saat batang penis Sule menerobos memasuki dirinya. Sule menjejal-jejalkan batang penisnya hingga selangkangannya berdesakan dengan selangkangan Ririn. Lyra Virna memapah ki Daus dan mendudukkan si Aki di sebelah Ririn yang tengah dicoblos oleh batang penis Sule.

“duhhh, Mbak Lyra emang baekk sama Aki” Ki Daus memuji kebaikan hati Lyra yang sedang asik mengusap-ngusap batang penisnya yang Loyo, dengan susah payah Lyra membangunkan batang penis Ki Daus.

“Biar gini-gini, titit saya mah paling maknyus Nengg… he he he, ee-hh”

Lyra mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat batang ki Daus kembali tertidur, akhirnya Lyra memberikan sebutir pil untuk Ki Daus.

“Minum Kii…”

“apaan nih ?? “

“Udahhh Minum aja, bukan racun koqq…”

“ahhh, biarpun ini racun, Ki Daus mah rela mati demi Neng Lyra…”

Tanpa pikir panjang Ki Daun menelan pil itu, beberapa saat kemudian.

“JRENGGGG….!!” batangan di selangkangan Ki Daus pun bangkit dengan gagah perkasa.

“yahhh, parahh ah si aki…, kudu dicekok dulu baru ngaceng…!!” Sule menyindir Ki Daus yang tersenyum pahit.

“Ouhhh, Neng Lyra!!“ Lyra menghisap-hisap batang penis Ki Daus, yang melingkarkan tangannya memeluk tubuh Ririn yang tengah terguncang dengan lembut

Sementara vaginanya terus digenjot-genjot oleh Sule, putting pink Ririn tidak lepas dari jari-jari nakal Ki Daus yang terus memilin-milinnya, batang lidah Ki Daus menjilat-jilat rahang kanan Ririn dan mengejar setiap tetesan peluh yang bergulir di leher jenjang artis cantik itu.

“Ohhh, Suleee.. Suleeee….”

Ririn menggelungkan kakinya membelit pinggul Sule, saat Sule bergoyang Ririn pun ikut bergoyang, saat Sule menyentakkan batang penisnya Ririn ikut menyentakkan liang vaginanya menyambut sodokan maut Sule, Clokkk.. clokkk.. clokkk clokkkk.., suara keras beradunya liang vagina Ririn dan batang penis Sule. Jeritan liar Ririn disambut suara geraman-geraman gemas Sule yang tengah asik berkutat menggarap liang vaginanya.

“ahhhhhhhhhhh, SULLEEEEEEE.. Crrutttt… Cruttttt…”

Tubuh Ririn mengejang hebat, seiring dengan itu jepitan kedua kakinya yang mulus terlepas dari pinggang sule. Ririn terkulai lemas dengan kedua mata terpejam-pejam. Mata Ki Daus melotot saat Lyra menungging dengan posisi doggy style. Sang Don Juan yang sudah renta mengejar sambil menjulurkan lidahnya keluar menjilati belahan vagina Lyra yang mengangkap kaki kirinya , mirip seperti posisi anjing yang sedang kencing.

“hsss-ahhh, shhhh-ahhh, Ki Dauuusss….” Lyra mendesah keenakan saat batang lidah Ki Daus menusuk membelah rekahan vaginanya

batang lidah Ki Daus terjulur panjang dan menggaruk-garuk dinding vagina Lyra, dengan gairah menggebu ki Daus membalikkan tubuh Lyra. Jari kirinya membentuk huruf V untuk membuka bibir vaginanya, dengan teratur jempol kanan Ki Daus memijat-mijat klitoris Lyra Virna yang merintih liar. Dua jari Ki Daus menusuki belahan vagina Lyra yang semakin banjir oleh cairan-cairan lengket licin.

“ahhhhh…crutttt… crutttt…. “ Lyra pun akhirnya orgasme oleh tusukan-tusukan jari Ki Daus.

“Lira tu vigers in…(Lyra two fingers in), now, may, setik will in tu..” akibat keompongannya Ki Daus kesulitan mengucapkan Bahasa Inggris.
Sule

Sule

Ki Daus menindih tubuh Lyra, wajahnya semakin mesum saat tubuh keriputnya bergesekan dengan tubuh Lyra yang halus mulus. Lyra memeluk tubuh Ki Daus, bibir Lyra saling melumat dengan bibir si aki yang keriput. Lyra menggeliat gelisah saat cumbuan Ki Daus turun ke arah dadanya.

“ahhh, enakkk.., enakkk Kiiiii…”

“Nyummm.., ceilehh, liarrrrrnyaa he he hehe…”

Mulut Ki Daus mengemot-ngemot buah dada Lyra Virna yang merintih liar keenakan sambil membusungkan payudaranya agar hisapan-hisapan mulut si aki yang sebenarnya sudah tidak layak tarung dengan wanita secantik Lyra.

“Auhhh…, akhhh akiiii….” Lyra menekuk dan mengangkangkan kedua pahanya saat wajah Ki Daus mengunjungi vaginanya, tanpa ampun batang lidah Ki Daus memandikan permukaan vagina Lyra hingga jembut wanita beranak satu tapi masih seksi itu basah kuyup oleh air liurnya. Ki Daus memperkuat hisapannya pada liang vagina Lyra saat ia mendengar suara erangan dan desahan tertahan artis cantik itu.

“ahhhh.. currrrr.. currrr… “

“sruppp… srupppp.. slrrruuuupphhh”

Ki Daus menelan habis cairan vagina Lyra Virna, kali ini si Aki mulai memasangkan kepala penisnya pada rekahan vagina Lyra. Dengan lembut ki Daus membelah vagina Lyra Virna.

“K-khhh…., akhhh… ahhh…”

“He he he, gimana rasanya digenjot ama Ki Daus, saya masih hebat kan Neng Lyra?? lebih hebat dari genjotan suami Neng Lyra pan?”

Ki Daus memainkan batang diselangkangannya, digenjotnya liang vagina Lyra dengan tempo lambat berirama Waltz, kemudian mendadak mengubah irama genjotannya dengan irama Tanggo, kemudian berubah menjadi irama Salza. (loh…loh…emangnya dansa apa?)

Tubuh Lyra menggeliut indah, sementara tubuh Ki Daus sebelah bawah menghentak-hentak dengan semakin kuat dan cepat.

“ohhh, Ki Daussssss hhhssssshhh Awwwww… enakkkk…akhh crrutttt…!!”

Ki Daus semakin bersemangat memacu batang penisnya, Lyra terpekik saat vaginanya berdenyutan dengan nikmat. Ki Daus membenamkan batangnya semakin dalam. Lyra menikmati puncak klimaks sedangkan Ki Daus menikmati remasan liang sempit wanita cantik itu yang berkontraksi dengan kuat, disaat yang bersamaan terdengar suara pekikan Ririn. Batang kemaluan Sule meraih kesuksesan dan membenamkan tubuh Ririn ke dalam kuali kenikmatan. Sule membimbing dan menaikkan tubuh Ririn ke atas tubuh Lyra dalam posisi 6.9, posisi pasangan pun kini berganti, penis Ki Daus mengincar bokong Ririn, sedangkan batang Sule mengincar selangkangan Lyra.

“Ohhhhhhhh…. “

Hampir bersamaan Lyra dan Ririn mendesah keras saat liang vagina mereka masing-masing disodok oleh Ki Daus dan Sule, mata Lyra menatap ke atas pada batang penis Ki Daus yang tengah membelah-belah liang vagina Ririn, sedangkan Ririn menatap selangkangan Lyra, ada sebuah benda milik Sule yang sedang asik keluar masuk menusuki belahan vagina Lyra. Suara rintihan dan rengekan Lyra ditimpa dan disambut oleh suara rintih Ririn, butiran keringat kedua wanita cantik itu bercampur dengan keringat Ki Daus dan Sule.

“crutttt… cruttt… Suleeeeee…”

“Ki Dausss Ahhhhhh cretttttt.. kecretttt…..”

“Pofffhhh…, pofffhhh“ terdengar suara letupan lepasnya alat kelamin masing-masing dari belahan vagina Ririn dan belahan vagina Lyra, kini sule dan Ki Daus terlentang pasrah di atas kain sarung. Lyra dan Ririn saling berpandangan, keduanya tersenyum nakal sambil merangkak menghampiri batangan di selangkangan Sule dan Ki Daus, lidah Ririn menempel pada buah zakar Ki Daus dijilatinya buah zakar Ki Daus dan dihisapinya sepasang buah zakar si Aki yang terkekeh keenakan bercampur ngilu. Setelah puas menghisap-hisap buah zakar Ki Daus bibir Ririn mengecup naik semakin ke atas, dan happp, diterkamnya kepala penis si Aki.

“Outtssshhh, Neng Ririn…seneng yang ama titit Ki Daus, he he”

Tangan kanan Ki Daus mengelusi kepala Ririn.

“bukannya seneng, tapi kepaksa ketimbang nggak ada…soalnya titit saya lagi diemut sama Mbak Lyra…, gimana rasanya titit saya??”

“enakkk…, gurihhh… Emmmh Suleeee.. Nyemmmhhhh..!!”

Lyra menekankan kepalanya ke bawah, secara otomatis batang Sule semakin dalam terbenam kedalam tenggorokannya, mulut Sule membentuk O besar, kedua matanya membeliak lebar selebar mata Ki Daus yang keenakan saat batang penisnya terselip di kerongkongan Lyra.

“nahh lu liat Pepp, kalau birahi cewek sudah naek begitu…, mereka berdua bisa diapain aja, mau yang semi hard sampe super hard….pokoknya semuanya bisa…” Budi berbisik di telinga Pepi

“ah.., masa sihh ?? “Pepi semakin antusias.

“yeee liat aja tuhhh….”

Kali ini sepertinya permainan akan berlangsung dengan agak keras, Sule mengeluarkan tali plastik, demikian pula Ki Daus, mereka mengikat pergelangan tangan Ririn dan Lyra pada sebatang pohon. Maka posisi kedua bidadari itu kini saling memunggungi mengapit pohon itu. Ki Daus mengangkat kedua kaki Ririn dan memposisikan diri diantaranya, pria tua itu mengarahkan penisnya yang masih mengacung tegak ke arah liang kemerahan Ririn yang dikelilingi hutan lebat berwarna hitam.

“Oouuhhh….Kii…!!” erang Ririn saat penis Ki Daus melesak ke dalam vaginanya.

Ki Daus terkekeh-kekeh lalu mulai menggoyang pinggulnya menyetubuhi Ririn yang terikat tak berdaya. Efek obat kuat masih bekerja sehingga penis Ki Daus masih cukup keras merojok-rojok vagina Ririn dan membuatnya menjerit-jerit kenikmatan. Sambil menggenjot mulutnya terus menjilati wajah artis muda itu, dalam satu kesempatan mulut mereka bertemu dan berpagutan panas.

Sementara di belakang Ririn, Lyra sedang menikmati permainan sado masokisme bersama Sule. Pelawak berambut kuncir itu menyeringai sambil menetesi payudara Lyra dengan lilin berwarna merah. Tetesan-tetesan lilin itu memberikan sensasi panas yang nikmat bagi Lyra, terutama ketika mengenai putingnya. Bukan itu saja, Sule juga memasukkan sebuah dildo berukuran sebesar pisang ambon ke vagina Lyra sehingga Lyra merapatkan pahanya menahan sensasi nikmat yang ditimbulkan dari benda yang mengobok-obok vaginanya itu.

“Hihihi…asyik kan Mbak Lyra?” Sule tersenyum mesum melihat Lyra yang mengerang-ngerang akibat perlakuannya itu.

“Uuuhhh…enak Leee…entot gua…plisss…entotin gua, jangan nyiksa gini terussshh!” erang Lyra menggigit bibir bawah.

“Nanti Mbak…nikmatin aja dulu biar lebih asoy!” kata Sule terus menetesi payudara wanita itu dengan lilinnya.

Lima menit kemudian setelah lilin itu sangat pendek barulah Sule meniup apinya hingga padam. Saat itu payudara Lyra telah belepotan tetesan lilin yang telah mengering. Sule menarik lepas dildo yang menancap pada vagina si artis cantik itu. Benda itu pun telah berlumuran cairan kewanitaan yang menjuntai ketika dicabut dari vagina Lyra. Sule menyodorkan dildo hitam itu ke mulut Lyra yang langsung menjilatinya tanpa harus disuruh. Seperti orang yang kehausan, Lyra menjilati cairan kewanitaannya sendiri yang membasahi dildo itu. Setelahnya Sule menjatuhkan dildo itu ke tanah lalu mendekap tubuh telanjang Lyra, diangkatnya kaki kanan wanita itu sambil tangan satunya menempelkan penisnya pada bibir vagina Lyra. Keduanya mendesah bersamaan ketika Sule mendorong pinggulnya sehingga penisnya melesak ke vagina Lyra. Pada pohon itu kini terikat dua orang wanita cantik yang sedang disetubuhi dalam posisi yang sama. Tak lama kemudian, setelah berhasil mengantar Ririn ke puncak orgasme, Ki Daus mencabut penisnya dan crot…crot…cairan putihnya muncrat membasahi perut dan payudara Ririn hingga akhirnya ia terduduk lemas di tanah. Sementara Sule makin ganas menghujam-hujamkan penisnya pada vagina Lyra. Wajah ibu cantik beranak satu itu semakin kemerahan akibat sensasi nikmat yang melandanya, ia sudah di ambang orgasme. Tidak sampai lima menit kemudian, sebuah erangan panjang terdengar dari mulutnya bersamaan dengan tubuhnya yang menggelinjang hebat, terasa agak sakit pada pergelangan tangannya yang terikat tapi tidak seberapa dibanding kenikmatan orgasme yang didapatnya. Dalam waktu bersamaan pula, Sule juga mencapai klimaks, ia membenamkan penisnya hingga mentok pada vagina Lyra serta menyemprotkan spermanya. Cairan hangat itu segera memenuhi rahim Lyra dan sebagian meleleh keluar bibir vaginanya. Sule ambruk begitu menyelesaikan orgasmenya, demikian pula Lyra, tubuhnya melemas dan kepalanya tertunduk lesu sambil tetap berdiri terikat pada pohon.



“Nahhh, sekarang kamu percaya Pep?? “

“Percaya Dokk.., percaya…., gila liar amat ya…, very hoottt” Pepi mengangguk-angguk dan melepaskan tangannya dari selangkangannya, tanpa disadari ia sejak tadi mengocok-ngocok penisnya sendiri sambil menyaksikan adegan panas di taman.

“Kamu mau istri kamu jadi hot seperti Ririn dan Lyra?? coba kamu bayangkan saat Sabria menjerit liar dan menggeliat-geliat seperti Lyra dan Ririn, merintih, mendesah dan memekik keras-keras…saat aku memompa ehh kamu Pep…kamu….yang mompa“ Dokter Budi buru-buru menarik pinggulnya kebelakang saat tangan Pepi hendak menggampar sesuatu yang membengkak di selangkangannya.

“Gimana mau Pep??“ Dokter Budi kembali bertanya.

“Mau Dokk, mauuuuu, tolong dokkkk…”

“Oke.., sekarang kita kembali….., nahhh, yang tadi itu itung-itung pembelajaran buat kamu, agar mengerti bagaimana memperlakukan seorang wanita, jadi bukan asal sodok ajaaaa…buktinya Ki Daus dan Sule bisa memuaskan Ririn dan Lyra, masa kamu kalah, nggak sanggup memuaskan istri kamu, yang frigit kaya Sabria gitu, harus dicairkan dengan kehangatan Pep…jangan dikasarin” Dokter Budi memberikan wejangan

Pepi mengangguk-angguk sambil mengelus-ngelus sesuatu membayangkan sedang mengelus buah dada Sabria.

“ada-dadahhh…!! “ dengan refflek Pepi menarik tangannya.

“Hahhh ??!! ngapain lu ngelus-ngelus buah duren Pep??” tanya Dokter Budi bengong

Pepi dan Dokter Budi pun kembali menemui Sabria.

“Nah sekarang praktekkan, ya. Saya lihat dulu, baru komentar,”

Lalu Pepi mulai beradegan dengan Sabria sambil bercerita.

“Pertama standar dok, kite bedua ciuman hot, kaya gini nih” kata Peppi sambil kemudian berfrenchkiss dengan Sabria yang membalas dengan liar.

Dokter Budi sampai geleng geleng melihat liur keduanya yang berlelehan di dagu. Keduanya beradu lidah dengan penuh gairah sampai lidah mereka saling belit dan saling jilat.

“Terus saya peluk dia dari belakang” desah Pepi yang mulai bernafas lebih berat menahan nafsu,

Pepi kemudian memeluk Sabria dari belakang, menggengam tangan istrinya itu dengan lembut namun tegas dan menekap kedua payudara Sabria yang mulai naik turun dengan lebih tidak teratur. Sabria mendesah ketika dengan lembut Pepi mencium cuping telinganya, lalu menjilat tengkuknya.

“Terus saya suruh dia jongkok, dan…” Pepi langsung membuka celananya, dan memaksa Sabria mendeepthroath penisnya.

“Woi brenti… brenti…!” dokter Budi langsung menghentikan Pepi, demi melihat Sabria tersedak hampir muntah menahan serangan penis Pepi.

“Lho.. apa yang salah, Dok?” tanya Pepi dengan lugunya.

“Lu pikir bini lu tembok. Kaya make jack hammer aja lu” sembur dokter Budi yang tumben-tumbennya ngerti Jack Hammer.

“Kalo gitu, harusnya gimana dok?”

“Sekarang minggir, gua yang contohin!”

Budi mengangkat Sabria yang megap-megap mencari udara, lalu dengan lembut mengelus punggungnya sambil mendekap wanita itu. Perlahan Budi mencium tepi bibir Sabria, menjilat lembut bibir sensual itu. Sabria membalas dengan lebih lembut, berusaha meresapi permainan bibir dan lidah dokter Budi yang profesional. Lidah Budi merayapi leher Sabria yang memejamkan matanya dan mendesah lirih menikmati getaran nafsunya. Tangan dokter Budi dengan lembut merayapi punggung Sabria, memijatnya lembut, dan mengarah dari bahu turun ke pinggulnya, menelusuri tulang punggungnya. Meremas lembut pinggulnya, buah pantatnya.

“Nah…” kata Budi sambil melepas Sabria dengan tiba-tiba, “begitu cara foreplaynya, sekarang kamu coba Pep”

Pepi mulai mengikuti metoda dokter Budi, dan dokter Budi bisa melihat ada lelehan cairan yang mengalir membasahi paha dalam Sabria yang mengenakan baby doll pada session itu yang menandakan ia mulai terangsang.

“Lha terus gimana dok?” tanya Pepi bego karena cuma melakukan gerakan yang sama berulang-ulang, sampai Sabria menunjukkan wajah bosan.

“Heran, pep…lu itu bodoh atau bego sih? bisanya langsung sruduk banteng ajah”, kata Budi sambil meraih Sabria dari Pepi.

“Lu liat nih caranya.”

Lalu Budi memeluk Sabria dari belakang, meremas-remas pinggulnya, menggigit kecil pundak dan tengkuknya, lalu dengan gerakan lembut meloloskan babydoll yang dikenakan Sabria dan membiarkan gadis itu menahan jatuhan babydollnya tepat di bawah payudaranya yang meggantung bebas tanpa disangga bra. Budi meciumi punggung Sabria dengan lembut sembari tangannya mengelusi sekeliling payudara gadis itu dengan telapak tangannya.

“Nah Pep, kalau kamu ngeliat toket bini lu udah begini biasanya diapain?” tanya Budi.

“biasanya sih di giniin dok” kata Pepi sambil dengan gemas meremas payudara Sabria dan mengenyotinya dengan kasar hingga Sabria meringis kesakitan.

“Emangnya bini lu sapi!” sembur Budi sambil menyentak kepala botak Pepi menjauhi payudara Sabria yang memerah.

“Toket itu harusnya diginiin tau!” katanya lagi sambil kembali mengelus lembut bukit payudara Sabria, memijatnya lembut, dan menyentil payudara gadis itu dengan gerakan halus, yang menyebabkan tubuh Sabria bergetar dan mengejang menahan nikmat.

Cairan yang mengalir di selangkangan gadis itu makin deras. Dengan lembut, Budi membimbing tangan Sabria untuk membiarkan babydollnya jatuh dan membiarkan kini seluruh tubuhnya terexpose bebas tanpa sehelai benang pun tertinggal.

“Gila lu, pep. Bini binal gini bisa sampe lu bilang ngga hot?”

“Lah dok, abisnya kalo ama saya kaya gedebog pisang.” kata Pepi seenaknya.

“Paraaaaah.”

Lalu dengan lembut lidah Budi bermain di punggung Sabria, dari tengkuk turun ke punggung, turun ke pinggul. Di sana Budi berhenti sejenak, emberikan gigitan-gigitan kecil di pinggul Sabria yang melenguh keras melepas orgasmenya. Lalu tanpa merasa jijik, membuka belahan pantat Sabria yang kini tertelungkup di meja kerja Budi dengan kaki dan pinggul menjuntai di pinggir meja. Untuk kemudian menjilati lubang anus gadis itu yang makin menjadi-jadi dalam orgasmenya. Kemudian Budi bangkit dan membalikkan tubuh Sabria, kini ia mempermainkan payudara gadis itu dengan lembut, jilatan, hisapan lembut, lidah itu menelusuri belahan dada montok Sabria, turun ke perutnya yang kencang, dan kemudian dengan lembut namun mematikan membongkar vagina gadis itu, yang makin mengerang-ngerang kenikmatan.

“Gimana sekarang rasanya Sab?” tanya Budi sambil terus mengobok-obok vaginanya dengan jari-jarinya.

“Aaahhh…Dok enakhhh…sshhh…terusin, entotin saya Dok!” lenguh Sabria dengan wajah semakin merah.

Budi lalu bertanya pada Pepi, “Lu belum pernah sampe kaya gini, kan?” yang dijawab dengan gelengan kepala Pepi, “Pep, kalo bini lu udah begini, apa aja dia rela, termasuk kalu lu entot pantatnya,”

“Ah masa, Dok, yang bener!?”

“yeee…lu nggak inget studi tour di kebun belakang tadi? Nih sekarang gua lanjutin, perhatiin baik-baik!”

Budi meloloskan celananya dan menarik Sabria mengikuti tubuhnya yang terlentang di lantai ruang praktek itu, dan membimbing Sabria untuk ber woman on top. Sabria kini terlihat lebih agresif dan menikmati permainan itu, ia menggenggam penis Budi dan mengarahkannya ke vaginanya yang telah basah kuyup. Sebuah desahan panjang terdengar dari mulutnya ketika penis Budi yang lumayan besar itu amblas ke vaginanya dengan sempurna. Budi pun membiarkan gadis itu bergerak sekehendak hatinya hingga Sabria mendapatkan orgasmenya kembali.

Budi merengkuh Sabria hingga tubuh mereka berdekapan erat, dicuminya bibir Sabria dan lidahnya mengait lidah wanita itu. Sementara itu tangannya membuka belahan pantat Sabria seakan memberi tanda untuk Pepi untuk ikut bergabung. Namun sebelum Pepi beraksi, Budi segera menyela,

“Jangan kasar-kasar, nyet.. ntar napsunya ilang”

“Iye, nyuk..” balas Pepi sambil dengan perlahan menghujam penisnya ke anus Sabria, yang lalu merintih dan menggeletar keenakan, walau ini adalah sodomi perdananya.

Kemudian ketiganya bergerak seirama, saling mengisi, menghujam, memberi kepuasan. Sabria benar-benar tak sanggup membendung nafsunya yang selama ini selalu tertahan karena Pepi hanya menganggapnya sebagai penampungan peju. Sementara kini, ia diperlakukan bagai ratu, dibuat terbuai, dan menikmati cumbuan yang maha dahsyat, hingga walau kini tingkahnya bagai pelacur nomor wahid, ia lakukan itu semua karena nafsunya yang menggelegak. Tak lama kemudian Budi melepaskan penisnya dari vagina Sabria lalu berlutut sehingga penisnya mengarah ke wajah wanita cantik itu. Tanpa diperintah, Sabria meraih penis Budi yang telah basah, membuka mulut selebar-lebarnya, dan…hap…Sabria mengulum dan menghisapi penis yang masih menegang itu. Lidahnya bergerak lincah membersihkan cairan-cairan yang masih berleleran di batangnya. Dokter Budi mencapai orgasmenya paling awal, ia melenguh dengan mata melotot seperti habis habis melahap sambal ABC sebotol. Spermanya muncrat dengan deras di dalam mulut Sabria sampai meleleh di sudut-sudut bibirnya. Dengan bernafsu Sabria melahap cairan kental itu hingga habis dan penis Budi menyusut. Lima menit kemudian, Pepi dan Sabria pun mencapai puncak kenikmatan bersama. Lenguhan dahsyat mengisi ruang praktek yang kini bagai surga dunia itu, bahkan untuk Sabria…walau vagina dan mulutnya disiram sperma Budi yang jelas-jelas bukan suaminya. Tubuh keduanya mengejang, Pepi meremas kedua payudara Sabria hingga akhirnya ambruk menindih tubuh wanita itu. Di tengah nafasnya yang masih ngos-ngosan, Sabria tersenyum puas ke arah Dokter Budi.

“Nah, sekarang lu tau kan harus gimana, Pep?” kata Budi setelah mereka sudah bisa menguasai diri dan berpakaian lagi. Pepi dan Sabria kembali duduk sebagaimana dokter dan pasiennya.

“Iye dok, makasi, ye…” kata Pepi sambil membayar tagihan konsultasi pada Budi…

“Dok…” kata Pepi lagi

“Apa?”

“Kalo saya masih punya masalah, saya kemari lagi, ya…”

“Atur aja pep, gua siap bantu…”

Ketika Pepi serta Sabria ke luar ruang praktek, mereka terkejut melihat, Stanley, Dede, Ruben dan Fany tergeletak lemas dengan celana dan kolor yang turun hingga ke lutut, dan tangan kanan di penis masing-masing yang sudah menyemburkan sperma sampai tak mampu lagi berejakulasi. Dengan mesra Pepi menggandeng Sabria melewati Ruben Onsu, Sabria tersenyum sambil mengerling nakal pada Pepi, Pepi membalas dengan meleletkan lidahnya untuk menggoda Sabria yang kini HOT.. dalam bercinta.

“E-ehh Ayammm… ?? !!“ Ruben sampe soak melihat Sabria yang liar dan panas dengan bernafsu Sabria melumat bibir Pepi.

Diantara Dua Kenikmatan

Mungkin ada baiknya apabila aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku Ivy, aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun yang tinggal di kota Bandung. Ini adalah untuk pertama kalinya aku menulis artikel, jadi mohon maaf apabila tulisanku disini masih kacau.

Aku akan menceritakan salah satu pengalaman pribadiku yang tidak pernah terlupakan seumur hidupku. Mungkin apabila aku dikatakan lesbi agak kurang tepat, karena selama ini aku masih tertarik dengan pria. Tapi ada satu keanehan dalam sifatku yang terkadang terangsang ketika melihat sesama jenis, apalagi apabila ia memakai baju yang ketat, atau baju yang sedikit transparan.

Aku memiliki seorang kekasih yang berinisial W. Aku menjalin hubungan dengannya sejak bangku SMA. Hubunganku dengannya sebenarnya belum terlalu jauh. Paling jauh kami hanya melakukan petting dengan masih mengenakan pakaian dalam. Tapi dalam hal yang satu ini seringkali aku tidak terpuaskan. Kekasihku selalu 'keluar' sebelum aku sempat mengalami orgasme.

Singkat cerita, aku menjadi bosan dan mulai mencari-cari pelampiasan. Pada awalnya, ketika suatu malam, kekasihku baru saja pulang dari rumahku setelah kami melakukan petting. Dan seperti biasanya, Ia sudah 'keluar' sebelum sempat aku mengalami orgasme. Malam itu aku begitu kesal. Sampai akhirnya ketika aku sedang tidur-tiduran, dan perasaan itu datang kembali. Horny yang amat sangat. Tanpa kusadari, aku memulai berfantasi tentang hubungan seksual bersama seorang pria kekar, yang begitu jantan dan dapat membuatku orgasme sampai berkali-kali.

Tanpa kusadari tanganku mulai meremas-remas buah dadaku sendiri. Aku sangat terangsang saat itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menginginkan untuk bermasturbasi, tetapi dorongan itu sangat kuat, aku hanya merasakan sebuah kenikmatan baru. Sambil terus berfantasi, aku mulai membuka baju kaosku sampai aku hanya menggunakan BH dan celana dalam saja (aku mempunyai kebiasaan hanya memakai kaos tanpa celana apabila aku sedang berada di rumah). Aku meremas-remas, mengelus-elus lembut payudaraku, sambil sesekali memainkan puting susuku. Nafasku mulai tak teratur, tangan kananku mulai bergerak ke bawah, menelusuri perutku, lalu berhenti sebentar di daerah pusarku, lalu memainkannya sebentar, lalu kulanjutkan lagi kebawah, mengelus-elus lembut bagian kemaluanku yang masih tertutup celana dalamku yang berwarna putih dan terbuat dari katun itu. Aku merasakan rangsangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sekalipun dengan kekasihku sendiri.

Setelah bermain cukup lama di atas celana dalamku, aku mulai meraba-raba masuk ke dalam celana dalamku. Kuelus lembut rambut-rambut halusku yang selama ini rajin kucukur. Kumainkan klitorisku yang sejak tadi sudah menonjol. Kurasakan kelembaban kemaluanku yang sedari tadi sudah terangsang. Aku menggesek-gesekkan jariku di klitorisku. Sampai tubuhku bergetar tak karuan. Ketika aku mulai memainkan bibir kemaluanku, begitu terkejutnya aku ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan cepat, dan ternyata sahabatku yang berinisial S. Betapa terkejut dan malunya aku saat itu karena pada saat itu aku sedang dalam posisi terlentang di tempat tidur dengan hanya menggunakan celana dalam dan bra yang sudah tersingkap, ditambah posisi tangan kananku yang berada di dalam celana dalamku sendiri. Begitu juga S, ia hanya berdiri kaku dan tak berkata sepatah kata pun.

S adalah seorang gadis bertubuh ideal, sampai kadang-kadang aku iri dengan tubuhnya itu. Pinggulnya yang besar, buah dadanya yang ideal (34B) dengan tinggi tubuh sekitar 160 cm, perut langsing. Cukup membuat iri para gadis yang melihatnya.

Setelah beberapa detik kami saling membisu, akhirnya ia memecahkan suasana dengan senyum nakalnya sambil berkata, "Lagi Ngapain Vy?"
Aku hanya dapat menjawab dengan terbata-bata, "Eng.. ngg.. ngga ngapa-ngapain kok.."
Dia hanya membalas ucapanku dengan tersenyum nakal sambil menghampiri tubuhku yang sedang terlentang dan setengah telanjang. Tanpa berkata apa-apa ia mulai mengelus-elus buah dadaku.
Aku sempat tersentak kaget tapi ia berkata, "Santai aja, tadi belom puas ya?"
Aku pada awalnya masih risih ketika ia memulainya, tapi entah mengapa aku hanya diam saja keenakan menerima elusan-elusannya itu. Ia mulai membuka BH-ku dan mulai mencium lembut kedua buah dadaku. Tidak lama kemudian aku sudah terangsang dibuatnya, nafasku mulai tak teratur.

Setelah beberapa menit ia mencium dan menjilati kedua buah dadaku, ia mulai membuka celana dalamku. Ia mulai menjilati mulai dari ibu jari kakiku, naik terus ke betis, ke paha, sampai pangkal pahaku. Menerima perlakuannya itu aku benar-benar terangsang. Badanku mulai gelisah, bergerak ke kiri-kanan mengimbangi jilatan-jilatannya. Ia berhenti sejenak, lalu ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya. Ketika itu pula aku melihat kedua buah dadanya yang putih kencang, dan puting susunya yang berwarna coklat muda. Seketika itu juga tanpa kusadari aku jadi tambah terangsang. Terlebih-lebih ketika ia membuka celana dalamnya. Oh, yang kurasakan pada saat itu darahku berdesir dari jantungku menuju kemaluanku yang membuat kemaluanku terasa berdenyut-denyut dibuatnya.

Setelah selesai membuka seluruh pakaiannya, ia kembali naik ke atas tempat tidurku dan kembali menjilati pangkal pahaku sambil sesekali meremas payudaraku. Lalu ia mulai menjilati bibir kemaluanku yang membuatku seperti tersetrum arus listrik, badanku mulai mengejang kenikmatan. Ia menjilati bibir kemaluanku cukup lama sampai ia akhirnya mulai menjilati klitorisku sambil sesekali menggigit kecil klitorisku yang membuatku berkelonjotan.

Setelah agak lama Ia mulai mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Ia memutar-mutar jari tengahnya di mulut liang kewanitaanku beberapa kali sampai akhirnya ia memasukkan jari tengahnya ke dalam liang kewanitaanku dengan perlahan. Leguhan kenikmatan pun keluar dari bibir tipisku. Ia mulai menggerak-gerakkan jari tengahnya maju-mundur dengan irama yang semakin lama semakin cepat. "Ahh.." suara desahan kenikmatan pun tak kuasa kubendung untuk keluar dari bibirku ini. Semakin dalam ia memasukkan jarinya ke liang kewanitaanku, semakin tak kuasa diriku menahan kenikmatan itu sampai akhirnya seluruh tubuhku seperti dialiri suatu hawa kenikmatan yang berpusat pada vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Jeritan yang tertahan disertai tubuh yang menggelinjang kenikmatan hanya dapat kutahan dengan memagut bibir tipisku sambil mencengkram erat bed cover ranjangku. Sungguh suatu perasaan yang sangat luar biasa. Aku hanya terkulai lemas walaupun dalam hati kecil ini masih mengharapkan untuk yang selanjutnya.

Melihat diriku sudah mencapai orgasme, S pun mulai mengarahkan tanganku ke arah buah dadanya yang putih mulus itu. Aku pun langsung menyambutnya dengan elusan-elusan lembut di sekeliling puting susunya, secara perlahan-lahan kuusap, terus ke arah tengah buah dadanya, sampai akhirnya kuusap lembut kedua puting susunya yang sudah menegang sedari tadi. Kukulum kedua jari telunjukku, kubasahi dengan ludahku, lalu kuteruskan memberikan stimulasi di kedua puting susunya. Leguhan yang keluar dari bibirnya semakin membuatku terangsang untuk memberinya stimulasi yang lebih hebat. Lalu aku pun duduk tepat di depannya dan mulai menjilati daun telinga kirinya sambil tetap kedua tanganku memberikan stimulasi di kedua buah dadanya. Kujilat sambil sesekali kugigit-gigit kecil daun telinganya, sambil terus turun ke arah leher, pundak, lalu ke tengah-tengah antara kedua buah dadanya, lalu menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kiri. Kujilat terus sampai menuju puting susunya. Lalu aku berhenti di sana, kujilat, kumainkan lidahku di sana sambil sesekali kuhisap dan kugigit-gigit kecil.

Tubuhnya pun mulai terlihat berkeringat, gerakan-gerakannya semakin gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, suara leguhan dan desahan pun tak urung keluar dari bibirnya itu. Setelah itu aku menuju ke arah buah dadanya yang sebelah kanan, kulakukan persis sama seperti ketika kustimulasi buah dadanya yang sebelah kiri. Setelah cukup lama lidahku pun mulai bergerak turun ke arah perutnya yang langsing dan putih mulus, terus ke bawah sampai ke pusarnya. Lalu kujilat-jilat pusarnya yang mengakibatkan tubuhnya semakin berkeringat dan berkelonjotan. Dari pusar aku meneruskan lidahku ke bawah, ke arah kemaluannya. Kujilat lembut rambut-rambut kemaluannya, lalu lidahku kuarahkan ke pangkal pahanya. Kucium-cium lembut pangkal pahanya yang membuatnya kegelian. Kusentuh dengan jariku bibir kemaluannya yang sudah basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkan oleh vaginanya akibat rangsangan-rangsangan yang tadi kuberikan. Kugesek-gesekkan jariku di sana. Leguhan yang keluar dari bibirnya pun semakin menjadi-jadi mengimbangi semakin banyaknya pula cairan yang keluar dari kemaluannya.

Setelah agak lama jariku kugesek-gesekkan bibir kemaluannya, dengan suaranya yang mendesah, ia pun memintaku untuk menjilati liang kewanitaannya. Tanpa berpikir panjang, aku pun mulai menjilati bibir kemaluannya walaupun saat itulah untuk pertama kalinya aku menjilat bibir kemaluan seorang wanita. Leguhan dan desah nafasnya semakin memburu. Lalu dengan kedua jariku, kutarik lipatan vaginanya ke atas sampai dapat kulihat klitorisnya yang berwarna pink itu, lalu kujilat-jilat dan kuhisap lembut. Tetesan keringatnya pun semakin membasahi tubuh indahnya itu.

Lalu ia menarik tubuhku dan mengajakku untuk membentuk posisi 69 dengan posisiku yang berada di atas. Terus terang, pada saat menstimulasinya kemaluanku pun sudah sangat basah akibat terangsang hebat, walaupun ini adalah untuk pertama kalinya aku berhubungan dengan sejenis. Sambil menjilati klitorisku ia memasukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluanku yang sudah basah itu dan menggerak-gerakkan jarinya maju-mundur. Menerima perlakuan itu membuat diriku pun tidak mau kalah dan terus menstimulasi kemaluannya semakin hebat.

Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang menandakan orgasmenya telah tiba. Ia menghentikan kegiatannya menstimulasi kemaluanku dan mendekap pinggulku erat sambil meremas kedua pantatku disertai leguhan panjang nikmat dari bibirnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah lalu ia menyuruhku mengganti posisi membentuk posisi menyerupai huruf X, dimana kemaluan kami bertemu di tengah-tengah. Kami pun seakan telah terbiasa dengan posisi tersebut mulai menggerak-gerakkan pinggang kami hingga kemaluan kami saling bergesekan satu sama lain. Sensasi rasa yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Nafas kami berdua semakin memburu mengimbangi gesekan-gesekan di kemaluan kami yang semakin lama semakin cepat. Posisi ini kami lakukan sambil ia menjilat-jilat telapak kakiku, lalu ia pun mengisap-isap jari-jari kakiku yang menambah rangsangan di tubuhku.

Setelah sekitar 10 menit kami dalam posisi itu, aku pun berteriak dengan nafas yang terengah-engah dan memberitahukannya bahwa aku sebentar lagi keluar karena aku merasakan kemaluanku seperti berdenyut-denyut. Ia pun membalas dengan menjawab bahwa ia pun sebentar lagi akan keluar dan mengusulkan untuk mengeluarkannya bersama-sama. Dalam hitungan detik tubuh kami menggelinjang secara bersamaan tersengat hawa kenikmatan yang menjalar di tubuh kami berdua sampai akhirnya kami berdua terkulai lemas di atas ranjangku dengan nafas terengah-engah dan ranjang yang membasah terkena keringat kami berdua.

Setelah nafas kami mulai normal, dengan tubuh masih telanjang ia memeluk lembut tubuhku lalu mengecup bibirku dengan lembut, lalu setelah itu ia mengecup keningku sambil berkata, "Vy, kamu hebat! makasih ya.."

Cukup lama kami tiduran sambil berpelukan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon rumahnya dan memberitahukan bahwa ia akan menginap di rumahku. Malam itu kami tidur bersama di bawah satu selimut tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuh. Sampai sekarang pun ia masih sering menginap di rumahku dan kami pun sering melakukannya dengan berbagai posisi dan variasi. Pernah juga S datang dan membawa sebuah dlido (penis mainan) yang bervibrator sepanjang 20 cm dengan diameter 3 cm dan kami pun sempat bermain-main dengan alat itu. Sekarang ini sudah sekitar 2 minggu kami tidak berkomunikasi lagi. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri dan begitu juga denganku. Demikian cerita nyata saya yang dapat saya ceritakan walaupun dengan tulisan yang jauh dari sempurna ini karena terus terang ini adalah pengalamanku yang pertama kali menulis kisah nyata di sini.

"Dahsyat" Behind the scene

Syuting acara Dahsyat baru saja selesai, ketiga presenternya, si catik Luna Maya, si playboy cap tikus Rafi Ahmad, dan si ngga jelas Olga Saputra sedang bercanda di ruang ganti, mereka tidak merasa risih untuk berada dalam satu ruangan saling bercanda yang menjurus, bahkan tanpa segan mereka saling membuka pakaian.
Olga berkata pada Luna, ‘Eh bo, bagus amat si tete lu? sekel.’ Kata Olga sambil meremas payudara Luna.
‘Ya iya lah.’ kata Luna sambil meminkan mimik wajahnya dengan lucu, ‘kan biar tetep laku, bo.’ guraunya lagi
‘Gua nenen, ya.’ kata Olga sambil menarik lepas bra Luna, dan langsung melumat payudara sekal milik sang dara.

Luna kaget dan coba berontak, ‘anjrit, ga… sadar lo’
Tangan Luna yang ingin mendorong Olga, tiba-tiba dicekal dari belakang dan di tekan ke arah pahanya dengan kuat.
Rafi Ahmad yang melakukannya, sambil dengan rakus menciumi dan menjilat leher jenjang Luna
‘Biar aja, May, si Olga kan masih dalam masa pertumbuhan,’ gumam Rafi ngga jelas sambil tetap dengan rakus melumat leher Luna, juga cuping telinga dan rahangnya.
‘Anjrit lu pada,’ maki Luna, yang menggeliat-geliat antara geli, nikmat dan ingin melepaskan diri
‘Anjrit sih anjrit, neng,’ dengus Olga yang berpindah ke payudara sebelah kiri, ‘tapi pentil elu ngaceng tuh,’
Wajah luna memerah karena memang puting payudara sebelah kirinya mencuat tegang setelah di jilat, dihisap dan digigiti oleh Olga, dan sekarang dengan rangsangan dari Rafi dan serbuan mulut Olga, seluruh tubuhnya menegang.
Ketika keduanya bergerak turun, desahan Luna makin terdengar jelas, lidah Olga yang menjalar ke perut ratanya, dan bermain dipinggulnya, lalu lidah Rafi yang menjelajah punggung dan ke bukit pantanya.
Luna tak menyadari kalau G-stringnya sudah tercampak entah ke mana. Hanya saja suara desah tertahan keluar dari mulut sensualnya ketika vagina dan anusnya diserbu lidah nakal Olga dan Rafi.
Tangan gadis itu kini meremasi dadanya, sambil tubuhnya menegang dan menyentak-nyentak merasakan lidah kedua rekan presnternya merayapi dua lubang yang memberikan sensasi hebat pada tubuhnya.
‘Enak kan, may?’ ejek Rafi yang merasakan pinggul luna bergerak-gerak mengejar lidahnya dan Olga.
‘Anjrit lu Raf, enak banget gila.’ ceracau Luna tak kauruan, tangannya kini menekan kepala Olga dan Rafi ke selangkangan dan buah pantatnya meminta lidah mereka untuk makin liar. Tubuh Luna menggeletar hebat ketika orgasmenya tiba, tubuhnya dibiarkan menggelosor oleh kedua rekannya.
Keduanya cengengesan melihat tubuh Luna, melihat dadanya yang naik-turun seirama dengan nafasnya yang masih memburu.
‘Sekarang elo, yang puasin kita dong May,’ kata Olaga dengan nafas memburu. Luna menatapnya dengan pandangan jahil dan berkata sambil merangkak mendekati Olga.
‘Emang lu punya kontol?’ ejeknya, dan Olga dengan menurunkan celana dalamnya.
‘Ouw,’ seru Luna kagum, ‘kontol lu boleh juga’ sambungnya sambil kemudian mengocok lembut penis Olga, menjilati pangkal sampai ke buah zakarnya, Olga mendesis karena perlakuan Luna, dan desisannya maknin menjadi ketika dengan santai Luna memerinya deeptroath.
‘Eh, May, kontol gua juga dong’ gerutu Rafi yang memang tidak sabaran, ia langsung menjambak rambut Luna dan menggiringnya ke arah penisnya yang sudah mengacung dan mengeluarkan cairan pelumas.
‘Auch, Rafi, rese luh, ya, sabar dikit dong,’ gerutu Luna sambil meringis karena mjambakan Rafi, namun tanpa pikir panjang langsung mend deeptroath penis Rafi, sementara tangannya mengocok penis Olga.
Secara bergantian mulut sensual Luna mengoral penis Rafi dan Olga, namun dasar orang, sudah dikasih jantung malah minta rempela. Dengan sedikit paksa, mereka menjejalkan penis mereka bersamaan dalam mulut Luna.
Gadis itu tentu saja gelagapan dan berusaha meronta, namun tentu saja kalah tenaga, terutama karena Rafi dan olga tidak tinggal diam dan mencoba merangsang Luna agar perlawanannya mengendur, dan benar saja, tak lama Luna sudah bisa menerima dua penis dalam mulutnya, bahkan tangannya kini memainkan payudara dan vaginanya sendiri, hingga ia mendapat orgasmenya yang kedua.
Lalu Rafi terlentang dan meminta Luna untk mengangkanginya, melakukan Woman on Top. Tanpa pikir panjang Luna yang sudah terbakar birahi segera mengangkangi Rafi dan masuklah penis playboy cap tikus kita dalam vagina Luna maya yang mendesah kenikmatan. Sedang asyik Luna menggenjot Rafi, punggungya didorong Olga hingga payudaranya lekat dengan dada kurus Rafi, lalu dengan santai Olga menyodomi Luna, yang mengerang,
‘Ancur, lu Olga. Sakit tau, pantat gua masih perawan, monyet! main sodok aja.’
Rafi ikut nimbrung, ‘Yah tau ‘ndiri, May, Olga, gitu loh, doyan pantat.’
Tapi Olga tak perduli dan dengan tempo yang teratur menggenjot anus Luna yang kini justru mendesah kenikmatan merasakan dua lubang kenikmatannya disodok dengan penuh gairah, ia bisa merasakan duua penis yang terhalang leh batas tipis antara anus dan vaginanya bergerak berirama, bergerinjal-gerinjal dalam kedua lubangya.
Dan tak lama hingga Luna kembali mendapat multiple orgasme, terlebih ketika keduanya salung bergantian menembus vagina dan anusnya.
Luna sampai minta-minta ampun pada kedua rekannya yang ternyata punya stamina sangat hebat, mereka kembali cengengesan, lalu membiarkan Luna beristirahat sebentar, sambil saling berbisik dan keduanya tertawa bersama. Rafi kemabali terlentang, meminta luna kambali berwoman on top . Luna yang terpauskan habis-habisan menurut tanpa pikir panjang dan melakukan permintaan Rafi, ia tak sadar kalau posisinya dimanfaatkan Olga untuk mengujam penis Luna dari belakang.
Mulut Luna membentuk huruf O namun tak bisa mengeluarkan suara, ia merasakan vaginanya dipaksa berekspansi habis-habisan menerima serbuan dua penis rekannya. Dan mulutnya menganga dan mendesah hebat ketika penis keduanya bergerak liar dalam vaginanya. Kegialaan ketiganya menyatu dalam posisi satu lubang dua batang ini.
Dan lolongan ketiganya menandai puncak orgasme terhebat yang terjadi di ruangan itu, semburan-demi semburan sperma masuk menerjang ke fdalam rahim Luna membuat gadis itu kembali melejang-lejang dilanda multiple orgasme sementara Olaga dan Rafi serasa berada di awang-awang ketika melepaskan hajat mereka yang tertahan begitu lama.
Ketiganya kemudian terkulai lemas, saling berpelukan. setelah seengah jam baru ketiganya mampu bergerak dengan lemah untuk kemudian berpakaian. Ketiganya melihat jam, tiga jam mereka bersetubuh dengan liar, ketiganya berpandangan dan tertawa.
Sejak saat itu ketiganya sering melakukan threesome bila ada kesempatan, bahkan mereka saling menyesuaikan jadwal agar bisa off bersamaan dan melakukan wild sex bersama

Jamu Mbak wati

Aku lama-lama menyukai tempat tinggalku, Meski harga kontraknya naik terus setiapkali kuperpanjang kontraknya. Tempat ku ini sangat strategis di dalam gang hanya ada rumah ku. Meski pengap karena dikelilingi tembok tinggi, tetapi aku suka, karena tak ada orang yang bisa melihat kegiatanku dan aku jadi merasa bebas.

Setelah Mia meninggalkan diriku . aku jadi jomblo. Mau pacaran aku malas dengan basa-basi dan berbagai tuntutan. Untuk melampiaskan libido ku, siapa saja yang kusenangi sering kubawa ke kamar yang istimewa ini. Karena alamatnya rumit banyak lika-likunya, tidak satu pun temen cewek ku yang berhasil mencari alamat ku.

Suatu hari saat aku baru membeli rokok di warung aku berpapasan dengan penjual jamu yang cukup mengagetkan. Wajahnya manis dan bodynya bahenol betul.

“Nggak salah ini orang jadi tukang jamu,” kata ku membatin.
"Mbak jamu" tegurku. Dia menoleh.
"Mau minum jamu mas ?” tanyanya.
“Iya tapi jangan di sini, ke rumah" ajakku dan dia ikut dibelakang ku.
Sesampai di rumah , si mbak melihat sekeliling.
“Wah enak juga tempatnya mas ya,” ujarnya.
"Mbak jamu apa yang bagus"
"Lha mas maunya untuk apa, apa yang mau untuk pegel linu, masuk angin atau jamu kuat"
"Kuat apa" tanya ku.
"Ya kuat segalanya" katanya sambil melirik.
"Genit juga si mbak" kata ku dalam hati.
"Aku minta jamu kuat lah mbak, biar kalau malam kuat melek bikin skripsi."

Tapi terus terang aku kurang mempunyai keberanian untuk menggoda dan mengarahkan pembicaraan ke yang porno-porno. Sejak saat itu mbak jamu jadi sering menghampiriku.

"Mas kemarin kemana saya kesini kok rumahnya dikunci. Saya ketok sampai pegel nggak ada yang buka."
"Oh ya kemarin ada kuliah sore jadi saya dari pagi sampai malam di kampus" kataku.
"Mas ini mas jamu kunyit asam, bagus untuk anak muda, biar kulitnya cerah dan jauh dari penyakit."
"Mbak suaminya mana ?" tanya ku iseng.
"Udah nggak punya suami mas, kalau ada ngapain jualan jamu berat-berat."
"Anak punya mbak ?"
"Belum ada mas, orang suami saya dulu udah tua, mungkin bibitnya udah abis."

Kami semakin akrab sehingga hampir setiap hari aku jadi langganannya. Kadang-kadang lagi nggak punya duit, dia tetap membuatkan jamu untuk ku. Dia pun sudah tidak canggung lagi masuk ke rumah ku. Bahkan dia sering numpang ke WC. Mbak Wati, begitulah dia mengaku namanya setelah beberapa kali mengantar jamu . Dia kini memasuki usia 27 tahun, asalnya dari daerah Wonogiri. Mbak Wati menganggap rumah ku sebagai tempat persinggahan tetapnya. Dia selalu protes keras jika aku tidak ada di rumah.

Semula Mbak Wati mengunjungi ku pada sekitar pukul 13. Tapi kini dia datang selalu sekitar pukul 5 sore. Kalau dia datang ke rumah ku jamunya juga sudah hampir habis. Paling paling sisa segelas untuk ku. Rupanya Mbak Wati menjadikan rumah ku sebagai terminal terakhir. Ia pun kini makin berani. Dia tidak hanya menggunakan kamar mandiku untuk buang hajat kecil, tetapi kini malah sering mandi. Sampai sejauh ini aku menganggapnya sebagai kakakku saja. Karena dia pun menganggapku sebagai adiknya. Sering kali dia membawa dua bungkus mi instan lalu direbus di rumah ku dan kami sama-sama menikmatinya.

Sebetulnya pikiran jorokku sudah menggebu-gebu untuk menikmati tubuh mbak Wati ini. Namun keberanian ku untuk memulainya belum kutemukan. Mungkin juga karena aku tidak berani kurang ajar jadi Mbak Wati makin percaya pada diri ku. Padahal wooo ngaceng.
Aku hanya berani mengintip jika Mbak Wati mandi. Lubang yang sudah kusiapkan membuatku makin ngaceng saja kalau menikmati intaian. Tapi bagaimana nih cara mulainya.

"Mas boleh nggak saya nginep di sini ?" tanya Mbak Wati suatu hari.
"Saya mau pulang jauh dan sekarang sudah kesorean, lagi pula besok saya nggak jualan, capek., "katanya beralasan tanpa saya tanya.
"Lha Mbak, tempat tidurnya cuma satu"
"Nggak pa-pa, saya tidur di tiker aja. Mas yang tidur di kasur."
"Bener nih," kata ku, dengan perasaan setengah gembira. Karena kupikir inilah kesempatan untuk menyergapnya.
"Iya nggak apa-apa koq" katanya.

Tanpa ada rasa canggung dia pun masuk kamar mandi dan mandi sepuasnya. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali mengintainya. Badannya mulus walaupun kulitnya tidak putih, tetapi bentuk tubuhnya sangat sempurna sebagai seorang wanita. Sayang dia miskin, kalau kaya mungkin bisa jadi bintang film, pikir ku. Teteknya cukup besar, mungkin ukuran 36, pentilnya kecil dan bulu jembutnya tebal sekali. Mungkin ada hubungannya dengan kumis tipis yang ada di atas bibirnya itu.Selesai mandi, kini giliranku masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Aku nggak tahan , sehingga kesempatan mandi juga kugunakan untuk ngloco.

"Mas mandinya koq lama sekali sih, ngapain aja" tanyanya mengagetkan.
"Ah biasa lah keramas sekalian biar seger" kata ku.
"Itu saya buatkan kopi, jadi keburu dingin deh, abis mandinya lama banget."

Malam itu kami ngobrol ke sana-kemari dan aku berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin mengenai dirinya.
"Mas suka di pijet nggak" katanya tiba-tiba.
"Wah nggak, nggak nolak" kata ku bercanda.
"Sini saya pijetin mas."

Tanpa menunggu terlalu lama aku segera menuju ke kamar dikuti mbak Wati dan semua baju dan celana ku ku buka tinggal celana dalam. Kumatikan lampu sehingga suasana kamar jadi agak remang-remang. Nggak nyangka sama sekali, ternyata mbak Wati pinter sekali memijat. Dia menggunakan cairan body lotion yang dibawanya untuk melancarkan mengurut. Aku benar-benar pasrah. Meski ngaceng berat, tetapi aku nggak berani kurang ajar. Cilakanya Mbak Wati ini tidak canggung sedikit pun merambah seluruh tubuhku sampai mendekati si dicky. Beberapa kali malah ke senggol sedikit, membuat jadi tambah tegang aja.

"Mas celananya dibuka saja ya biar nggak kena cream."
"Terserahlah mbak" kata ku pasrah . Dengan cekatan dia memelorotkan celana dalam. Sehingga aku kini jadi telanjang bulat.
"Apa mbak nggak malu melihat saya telanjang" tanya ku.
"Ah nggak apa-apa, saya dulu sering memijat suami saya."
"Dia yang ngajari saya mijet."

Tegangan ku makin tinggi karena tangan nya tanpa ragu-ragu menyenggol kemaluan ku. Dia lama sekali memijat bagian dalam paha ku, tempat yang paling sensitive dan paling merangsang. Mungkin kalau ada kabel di hubungkan diriku dengan lampu, sekarang lampunya bakal menyala, orang teganganku sudah mulai memuncak.Aku tidur telungkup sambil berfikir, gimana caranya memulai. Akhirnya aku berketetapan tidak mengambil inisiatif. Aku akan mengikuti kemana kemauan Mbak Wati. Kalau terjadi ya terjadilah, kalau nggak yaa lain kali mungkin. Tapi aku ingin menikmati dominasi perempuan atas laki-laki.

Setelah sekitar satu jam aku tidur telungkup, Mbak Wati memerintahkan aku telentang. Tanpa ragu dan tanpa rasa malu dan bersalah aku segera menelentangkan badan ku. Otomatis si dicky yang dari tadi berontak, kini bebas tegak berdiri. Celakanya si dicky tidak menjadi perhatian Mbak Wati dia tenang saja memijat dan sedikitpun tidak berkomentar mengenai dicky ku. Kaki kiri, kaki kanan, paha kiri, paha kanan, kepala tangan kiri, tangan kanan, lalu perut. Bukan hanya perut tetapi si Dicky pun jadi bagian yang dia pijat. Aku melenguh.
"Aduh mbak"
"Kenapa mas" katanya agak manja.
"Aku nggak tahan, ngaceng banget"
"Ah nggak apa-apa tandanya mas normal"
"Udah tengkurep lagi mas istirahat sebentar saya mau ke kamar mandi sebentar."

Lama sekali dia di kamar mandi, sampai aku akhirnya tertidur dalam keadaan telungkup dan telanjang. Tiba-tiba aku merasa ada yang menindihku dan kembali kurasakan pijatan di bahu. Dalam keadaan setengah sadar kurasakan ada seusatu yang agak berbeda. Kenapa
punggungku yang didudukinya terasa agak geli Kucermati lama-lama aku sadar yang mengkibatkan rasa geli itu ada bulu-bulu apa mungkin Mbak Wati sekarang telanjang memijatiku. Ternyata memang benar begitu. Tetapi aku diam saja tidak berkomentar. Kunikmati usapan bulu jembut yang lebat itu di punggungku. Kini aku sadar penuh , dan dicky yang dari tadi bangun meski aku sempat tertidur makin tegang. Wah kejadian deh sekarang, pikirku dalam hati.

"Balik mas katanya" setelah dia turun dari badan ku

Aku berbalik dan ruangan jadi gelap sekali. Ternyata semua lampu dimatikannya . Aku tidak bisa melihat Mbak Wati ada dimana . Dia kembali memijat kakiku lalu duduk di atas kedua pahaku . Ia terus naik memijat bagian dadaku dan seiring dengan itu, jembutnya berkali-kali menyapu si dicky. Kadang-kadang si dicky ditindihnya sampai lama dan dia melakukan gerakan maju mundur.

Beberapa saat kemudian aku merasa mbak wati mengambil posisi jongkok dan tangannya memegang batang si dicky. Pelan-pelan di tuntun kepala si dicky memasuki lubang kemaluannya. Aku pasrah saja dan sangat menikmati dominasi perempuan. Lubangnya hangat sekali dan pelan-pelan seluruh tubuh si dicky masuk ke dalam lubang vagina mbak waty. Mbak Wati lalu merebahkan dirinya memeluk diriku dan pantatnya naik turun, sehingga si dicky keluar masuk . Kadang-kadang saking hotnya si dicky sering lepas, lalu dituntunnya lagi masuk ke lubang yang diinginkan. Karena aku tadi sudah ngloco dan posisiku di bawah, aku bisa menahan agar mani ku tidak cepat muncrat. Gerakan mbak Wati makin liar dan nafasnya semakin memburu.

Tiba-tiba dia menjerit tertahan dan menekan sekuat-kuatnya kemalauannya ke si dicky. Dia berhenti bergerak dan kurasakan lubang vaginanya berdenyut-denyut. Mbak wati mencapai orgasmenya yang pertama.

Dia beristirahat dengan merebahkan seluruh tubuhnya ke tubuhku. Jantungnya terasa berdetak cepat. Aku mengambil alih dan membalikkan posisi tanpa melepas si dicky dari lubang memiaw mabak wati. Ku atur posisi yang lega dan mencari posisi yang paling enak dirasakan oleh memiaw mbak Wati. Aku pernah membaca soal G-spot. Titik itulah yang kucari dengan memperhatikan reaksi mbak wati. Akhirnya kutemukan titik itu dan serangan terus ku kosentasikan kepada titik itu sambil memaju dan memundurkan si dicky . Mbak wati mulai melenguh-lenguh dan tak berapa lama dia berteriak, dia mencapai klimaks tertinggi sementara itu aku juga sampai pada titik tertinggi ku. Dalam keadaan demikian yang terpikir hanya bagaimana mencapai kepuasan yang sempurna. Kubenamkan si dicky sedalam mungkin dan bertahan pada posisi itu sekitar 5 menit. tongkolku berdenyut-denyut dan vaginanya mbak wati juga berdenyut lama sekali.

"Mas terima kasih ya, saya belum pernah main sampai seenak ini."
"Saya ngantuk sekali mas."
"Ya sudah lah tidur dulu."

Aku bangkit dari tempat tidur dan masuk kamar mandi membersihkan si dicky dari mani yang belepotan. Aku pun tidak lama tertidur. Paginya sekitar pukul 5 aku bangun dan ternyata mbak wati tidur di samping ku.Kuraba memiawnya, lalu ku cium, tangan ku, bau sabun.
Berarti dia tadi sempat bangun dan membersihkan diri lalu tidur lagi. Dia kini tidur nyenyak dengan ngorok pelan.

Kuhidupkan lampu depan sehingga kamar menjadi agak remang-remang. Kubuka atau kukangkangkan kedua kakinya . Aku tiarap di antara kedua pahanya dan kusibakkan jembut yang lebat itu untuk memberi ruang agar mulutku bisa mencapai memiawnya. Lidahku mencari posisi clitoris mbak wati. Perlahan-lahan kutemukan titik itu aku tidak segera menyerang ujung clitoris, karena kalau mbak wati belum terangsang dia akan merasa ngilu. Daerah sekitar clitoris aku jilat dan lama-lama mulai mengeras dan makin menonjol.

“Mas kamu ngapain mas, jijik mas udah, mas" tangannya mendorong kepala ku, tetapi kutahu tenaganya tidak sunguh-sungguh karena dia juga mulai mengelinjang. Tangannya kini tidak lagi mendorong kepalaku, mulutnya berdesis-desis dan diselingin teriakan kecil manakala sesekali kusentuh ujung clitorisnya dengan lidahku.

Setelah kurasakan clitorisnya menonjol penuh dan mengeras serangan ujung lidahku beralih ke ujung clitoris. Pinggul mbak wati mengeliat seirama dengan gerakan lidahku. Tangannya kini bukan berusaha menjauhkan kepalaku dari vaginanya tetapi malah menekan, sampai aku sulit bernafas.

Tiba-tiba dia menjepitkan kedua pahanya ke kepalaku dan menekan sekeras-kerasnya tangannya ke kepalaku untuk semakin membenam. Vaginanya berdenyut-denyut.
Dia mencapai klimak. Beberapa saaat kupertahankan lidah ku menekan clitorisnya tanpa menggerak-gerakkannya. Setelah gerakannya berhenti aku duduk di antara kedua pahanya dan kumasukkan jari tengah ke dalam memiawnya kucari posisi G-spot, dan setelah teraba kuelus pelan. Dengan irama yang tetap. Mbak Wati kembali menggerakkan pinggulnya dan tidak lama kemudian dia menjerit dan menahan gerakan tanganku di dalam memiawnya. Lubang vaginanya berdenyut lama sekali.

"Aduh mas ternyata mas pinter sekali."
"Aku kira mas nggak suka perempuan. Aku sampai penasaran mancing-mancing mas, tapi kok nggak nyerang-nyerang aku."
"Jadi aku bikin alasan macem-macem supaya bisa berdua sama mas."
"Aku segen mbak, takut dikira kurang ajar. Selain itu aku juga ingin menikmati jika didului perempuan."
"Ah mas nakal, menyiksa aku. Tapi aku suka mas orangnya sopan nggak kurang ajar kayak laki-laki lain."
"Mas tadi kok nggak jijik sih jilati memiaw ku. Aku belum pernah lho digituin. Rasanya enak juga ya."kata Mbak Wati.

Wati mengaku ketika berhubungan dengan suaminya yang sudah tua dulu hanya hubungan yang biasa saja dan itu pun mbak wati jarang sampai puas. Dia mengaku belum pernah berhubungan badan dengan orang lain kecuali suaminya dan diriku.

"Pantes memiawnya enak sekali, peret mbak," kata ku.
“Wong tukang jamu koq, yo terawat toh yo.”
"Sekarang gantian mbak, barang ku mbok jilati po'o. "
Aku ra iso he mas"
"Nanti tak ajari."

Mbak Wati mengambil posisi diantara kedua pahaku dan mulai memegang si dicky dan pelan-pelan memasukkan mulutnya ke ujung tongkol. Dia berkali-kali merasa mau muntah, tetapi terus berusaha mengemut si dicky Setelah terbiasa akhirnya dikulumnya seluruh batang tongkol ku sampai hampir mencapai pangkalnya. Aku merasa ujung si dicky menyentuh ujung tenggorokkannya.

Dia memaju-mundurkan batang di dalam kulumannya . Ku instruksikan untuk juga melakukannya sambil menghisap kuat-kuat.dia menuruti semua perintahku. Bagian zakarnya juga dijilatnya seperti yang kuminta. Dia tidak lagi mau muntah tetapi mahir sekali. Setelah berlangsung sekitar 15 menit kini aku perintahkan dia tidur telentang dan aku segera menindihnya.

"Mas tongkole kok enak tenan, keras sampai memiaw ku rasanya penuh sekali."

Kugenjor terus sambil kosentrasi mencari titik G. Tidak sampai 5 menit Mbak wati langsung berteriak keras sekali. Dia mencapai orgasme tertinggi. Sementara aku masih agak jauh .
Setelah memberi kesempatan jeda sejenak. Mbak Wati kusuruh tidur nungging dan kami melakukan dengan Dogy Style. Rupanya pada posisi ini titik G Mbak wati tergerus hebat sehingga kurang dari 3 menit dia berteriak lagi dan aku pun mencapai titik tertinggi sehingga mengabaikan teriakannya dan kugenjot terus sampai seluruh maniku hambis di dalam memiaw mbak wati.

Dia tertidur lemas,aku pun demikian. Sekitar jam 8 pagi kami terbangun dan bersepakat mandi bareng. Badan Mbak wati memang benar-benar sempurna, Teteknya besar menentang, pinggulnya besar dan pinggangnya ramping.

Setelah malam itu mbak Wati jadi sering menginap di kamar ku. Sampai satu hari dia datang dengan muka sedih.
“Mas aku disuruh pulang ke kampung mau dikawinkan sama Pak lurah."
"Aku berat sekali mas pisah sama mas, tapi aku nggak bisa nolak keinginan orang tua ku,” katanya bersedih.

Malam itu Mbak wati nginap kembali di kamar ku dan kami main habis-habisan. Seingat saya malam itu saya sampai main 7 ronde, sehingga badan ku lemas sekali.

Rasa Untuk Tania

Perempuan yang sudah lama kusukai bernama Tania, ia adalah teman kuliahku. Orangnya ramah, sangat enerjik, dan bisa dibilang tomboy. Ia adalah salah satu di antara empat orang teman dekatku di kampus, yang lain adalah Galih (si anak orang kaya), Rian (si gendut), dan Santi (teman akrab Tania yang kemana-mana selalu bersama). Sementara namaku adalah Adi, seorang lelaki 20 tahun biasa-biasa saja, yang paling pemalu di antara kami berlima.

Pada malam ini, kami berempat janjian untuk bertemu di sebuah kafe di tengah kota untuk merayakan selesainya masa ujian semester dan tibanya masa liburan. Aku datang ke kafe bersama dengan Gilang, menumpang di mobilnya. Bukan berarti aku tidak mau mengeluarkan uang untuk ongkos, hanya saja Gilang menawari aku untuk pergi bersamanya, jadi aku tak bisa menolak.

Tiba di kafe, Rian sudah memesan tempat. Ia duduk di salah satu sofa di pojok ruangan yang memang sudah disetting untuk empat orang. Mata Rian tak henti menatap monitor laptop di hadapannya, sehingga ia tak sadar kalau kami sudah ada di belakangnya.

"Hey!" Galih menepuk pundak Rian, membuat pria gemuk itu terhenyak kaget.

"Baru sendirian?" tanyaku sambil duduk.

"Iya nih. Parah dah, cuma gue aja yang nggak ngaret," jawab Rian.

"Lah, Si Tania sama Santi belom dateng?" tanya Galih yang kemudian duduk di sebelah Rian, lalu melongok ke arah monitor laptop.

"Mana gue tau? Biasalah, cewek-cewek itu. Padahal tempat kost mereka paling deket dari sini," jawab Rian.

Di samping laptop, terdapat sepiring roti bakar isi coklat keju yang tampak masih hangat. Tanpa minta izin, Galih segera mengambil sepotong roti dan melahapnya. Rian menatap Galih sambil menyindir, tapi Galih hanya membalasnya dengan menaikkan alis. Selama setengah jam, kami mengobrol hal-hal ringan seperti film yang sedang diputar di bioskop dan game-game baru.

Saat kami masih asyik mengobrol, Tania dan Santi tiba di kafe. Tania datang mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dengan logo The Rolling Stones di bagian dadanya. Untuk sekilas, perhatianku terhenti pada bagian itu. Tidak, dia bukan wanita berdada besar seperti yang banyak dipikirkan lelaki hidung belang. Dadanya relatif kecil, namun tonjolan mungil dan menggemaskan itu terlihat samar-samar dari balik kaosnya, membuatku tak henti merasa penasaran. Begitu pula dengan bokongnya. Bahkan pada saat ia memakai celana jeans ketat seperti sekarang pun, pantatnya cenderung rata. Ia memang kurus, tapi kakinya jenjang dan pinggangnya membentuk kurva yang menarik. Selain tentu saja, wajah dan senyumnya yang sangat manis.

"Guys, sori..., sori, tadi gue ada urusan sebentar," ujar Tania sambil merapikan rambutnya yang lurus dan panjang sebahu.

"Iya, lagian tadi angkotnya ngetem lama banget," tambah Santi. Santi memiliki wajah yang kurang menarik, badannya juga pendek dan agak gendut, tapi ia adalah orang yang sangat setia kawan, terutama pada Tania.

"Yaudah, duduk dulu. Nanti habis ini baru kita nonton," ujar Galih.

Santi duduk di sebelah Galih, sementara Tania duduk tepat di sebelahku. Sudah tiga bulan ini aku merasakan gelora yang luar biasa terhadap Tania. Aku sendiri pun tidak mengerti, kenapa baru belakangan ini aku jatuh cinta kepadanya, padahal kami sudah saling kenal selama dua tahun lebih. Tania meletakkan tas kecilnya di atas pangkuan sambil menyikut lenganku, lalu ia tersenyum manis. Gaya sapaannya yang seperti itu malah membuat jantungku berdetak semakin kencang.

"Rapi banget lo. Mau nonton apa kondangan?" sindir Tania sambil menunjuk kemeja formal yang kukenakan, lalu tertawa. Sebenarnya aku memakai kemeja ini karena pakaianku yang lain masih di laundry.

Kami berlima menghabiskan waktu di kafe sambil minum kopi dan makan kue-kue ringan. Banyak orang yang menjuluki kami sebagai Power Rangers, karena komposisi geng kami yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Bagiku, kalau memang itu benar, maka Galih adalah ranger merah, Rian adalah ranger hitam (karena kulitnya hitam), Santi adalah ranger kuning, Tania adalah ranger pink, sementara aku adalah ranger biru (karena seingatku ranger biru biasanya yang paling kalem dan pemalu).

Setelah selesai di kafe, kami pun segera beranjak ke bioskop yang letaknya tak jauh dari situ. Tiket sudah dibeli sebelumnya, sehingga kami tak perlu khawatir kehabisan tempat. Kebetulan saat kami datang filmnya sudah hampir diputar, sehingga kami segera masuk ke dalam studio tanpa menunggu lagi.

Tiket yang kubeli kemarin memiliki nomor 26, 27, 28, 29, dan 30; letaknya di pojok sebelah atas. Dan entah kenapa, mungkin ini memang sudah takdir, aku duduk bersebelahan dengan Tania. Aku duduk di kursi paling pojok, di sebelah kananku Tania, dan Santi di sebelahnya lagi.

"Anjrit, iklannya lama banget! Tau gini tadi mending gue beli popcorn dulu!" ujar Tania kesal.

"Lah, bukannya tadi kita bawa kacang atom ya?" ucap Santi sambil membuka restleting tasnya.

"Oiya, lupa gue!" Tania akhirnya menemukan sebungkus kacang atom dari tas Santi.

Tania langsung membuka bungkus kacang, meraup segenggam, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.

"Di, mau?" ucap Tania padaku, mulutnya masih penuh dan terus mengunyah. Kupikir-pikir, cewek yang tidak anggun ini sepertinya tak pantas jadi ranger pink.

"Nanti aja deh, filmnya juga belum mulai," ucapku.

"Yaudah, ntar kalau mau, bilang ya," ucapnya.

Tak lama kemudian, film langsung dimulai dan lampu dimatikan. Film yang kami tonton adalah sebuah film misteri yang berjudul Fog Hill. Ceritanya tentang sekelompok orang yang tersesat di bukit misterius yang aneh. Selama setengah jam kami serius menonton dan tak banyak bicara, kecuali Tania dan Santi yang sesekali bergumam.

"Masih ada nggak kacangnya?" tanyaku pada Tania.

"Oh iya, masih ada nih, dikit lagi. Hehe," ucap Tania sambil nyengir dan menyerahkan bungkusan kacang. Gila, kayanya dia lagi kelaparan, cepat amat makannya.

Aku mengambil segenggam kacang dan memasukkannya ke dalam mulut ketika adegan film yang menegangkan dimulai. Tokoh utama di film itu sedang dikejar-kejar oleh pembunuh kejam, dan ia harus bersembunyi demi keselamatan nyawanya. Aku menyodorkan bungkus kacang ke arah Tania tanpa menolehkan wajahku dari film. Tania tidak langsung mengambil bungkus kacang itu, mungkin ia tidak ngeh karena gelap. Lalu aku majukan sedikit lagi tanganku dengan tujuan agar lebih dekat ke mukanya. Namun tanpa sengaja, punggung tanganku malah menyentuh sesuatu yang aneh, sesuatu yang empuk dan agak kenyal. Entah karena sedang terfokus pada film atau apa, aku tidak langsung menarik tanganku dan malah menekan-nekan benda empuk itu dengan tangan yang sedang memegang bungkus kacang. Baru beberapa detik kemudian aku sadar dan menoleh, dan pada saat itulah aku baru tahu kalau tanganku sedang menyentuh buah dada Tania yang mungil itu, meskipun terhalang kaos.

Nafasku tertahan dan rasa takut sekaligus malu memenuhi kepalaku. Di antara kegelapan bioskop, aku mencoba melihat ekspresi wajah Tania. Ia sedang menatapku dengan tatapan yang canggung dan tampak seperti sedang menahan nafas. Oh tidak! Aku langsung menarik tanganku secara terburu-buru, akibatnya bungkus kacang itu malah jatuh dan menumpahkan sebagian isinya. Beberapa butir kacang berserakan di kolong kursi.

"Aduh! Maaf, maaf! Nggak sengaja!" ujarku panik. Entah aku minta maaf untuk kesalahan yang mana.

"Gapapa, santai aja kali, cuma dikit kok," jawab Tania dengan kalimat yang kurasa agak ambigu. Ia mengucapkannya dengan senyum yang tampak dipaksakan. Mudah-mudahan ia tidak marah.

Setelah itu, sepanjang sisa film aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku selalu tertuju pada benda empuk yang baru saja kusentuh tanpa sengaja. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku menyentuh buah dada perempuan dengan sefrontal itu. Yah, aku memang cowok yang agak kuper, jadi maklumi saja. Dan sekarang kontolku jadi sedikit tegang, membayangkan kalau seandainya aku bisa meremasnya tadi. Tapi di sisi lain, aku juga takut kalau Tania marah padaku, bisa saja ia mengira aku sengaja melakukannya.

Setelah selesai nonton, aku dan Tania tidak banyak bicara. Aku juga tidak berani mengajak bicara lebih dulu, karena aku sendiri masih merasa malu. Kami pulang dengan menumpang mobilnya Galih, aku duduk di sebelah depan, sementara Tania, Santi, dan Rian di kursi belakang. Sesampainya di rumah, aku segera mengirim SMS ke ponsel Tania. Aku memang tidak berani meminta maaf secara langsung, dan aku juga tidak mau hubungan persahabatan kami jadi renggang gara-gara masalah kecil.

"Tan, sori ya yg tadi. Sumpah, gue ga sengaja," ucapku dalam SMS.

Tak lama kemudian, ia membalas SMS-ku.

"Iya, gue tau kok. Cuma tadi gue speechless aja, kaget gue. Geli. :p "

Entah karena kalimat yang mana, kontolku menjadi tegang lagi. Karena di rumah sendiri, aku tidak ragu-ragu untuk melakukan onani sambil memandangi foto Tania. Wajahnya, senyumnya, tubuhnya, rambutnya. Seandainya saja aku bisa mengulang kejadian tadi seratus kali. Oh, seandainya saja aku bisa bercinta dengannya.

---

Esok paginya, untuk memastikan bahwa hubunganku dengan Tania baik-baik saja, aku memberanikan diri mampir ke tempat kost Tania, dengan alasan ingin mengembalikan buku yang pernah kupinjam. Aku mengetuk pintu kamarnya, lalu tak lama kemudian ia pun membuka pintu. Selama beberapa detik, kami bertatapan tanpa suara. Wajah manisnya tampak begitu alami karena ia tidak mengenakan make up. Ia memakai kaos putih polos dan celana legging warna hitam. Sepertinya ia sedang bermalas-malasan di kamar.

"Eh, Di? Kok nggak bilang mau kesini?" tanyanya sambil tersenyum. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

"Iya, gue kebetulan lewat sini dan inget mau ngembaliin buku," ucapku canggung.

"Oh iya, yuk masuk dulu. Sori agak berantakan," ucapnya sambil mempersilakan aku masuk ke dalam kamar.

Aku mengeluarkan buku dari dalam tas dan masuk ke dalam kamarnya. Meskipun ia bilang berantakan, tapi bagiku kamarnya tampak rapi. Ada boneka kucing cukup besar di sudut kamar, yang menandakan bahwa ia tidak setomboy yang orang pikir.

Tania mengambil buku yang aku berikan, lalu menyimpannya di dalam lemari. Ketika ia sedang menyimpan buku dan membelakangiku, timbul suatu keinginan yang amat besar untuk memeluknya dari belakang, lalu mencium lehernya, dan meremas buah dadanya. Tapi tentu saja aku tidak berani melakukan hal itu. Aku sangat menghargai dia sebagai temanku, terlebih lagi aku menyukainya sebagai perempuan yang menyenangkan.

"Adi, lain kali lo kalau nonton di bioskop deket gue, hati-hati dong. Mentang-mentang gelap, lo seenaknya aja grepe-grepe gue. Pelecehan tau!"

Dadaku serasa tertusuk mendengar ucapannya yang tiba-tiba itu. Tapi kemudian ia menoleh ke arahku dan tertawa lepas.

"Haha. Becanda ih. Muka lo pucat banget sih?"

"Iya. Abisnya gue keasyikan nonton film, lagi seru-serunya. Murni kecelakan kok, Tan," jawabku membela diri.

"Baru pertama kalinya 'itu' gue dipegang cowo. Kanget banget gue waktu itu," ucapnya sambil tersenyum. Kok rasanya pembicaraan ini jadi agak gimana gitu.

Aku tahu, di luar sifatnya yang suka seenaknya, Tania adalah gadis yang baik-baik. Setidaknya ia bukan penganut pergaulan bebas seperti perempuan perkotaan yang lain. Tapi tetap saja, dia adalah perempuan dewasa yang tidak naif lagi.

"Apalagi gue, Tan," ucapku menimpali.

Setelah itu kami berdua saling bertatapan, cukup lama, sampai akhirnya aku berpikir untuk segera pulang saja. Namun belum sempat aku pamit, Tania membuka mulutnya dan berbicara.

"ehm, Di...."

"Ya?" tanyaku.

"Ngg... gimana ya bilangnya... bingung," Tania tersipu.

"Apaan sih?" ucapku, berlagak santai.

"Hmm... boleh nggak? Ngg..., tapi jangan bilang siapa-siapa, yah?"

"Maksudnya?"

"Lo janji dulu, jangan bilang siapa-siapa. Please...," ucap Tania dengan senyum malu-malu.

"Iya, gue janji kok. Ada apa?"

Tania menunduk, kedua tangannya bertautan di belakang punggung, "Lo..., lo mau nggak megang ini gue lagi? Sejak semalem gue penasaran banget, pengen ngerasain. Bagian yang lo sentuh kemarin rasanya jadi gatel terus, gimana gitu."

"Tan, lo nggak lagi ngerjain gue kan?" nafasku serasa berhenti selama beberapa detik, sementara kontolku perlahan-lahan menegang.

"Terserah elo mau nganggepnya gimana. Gue malu banget sebenernya, tapi gue percaya sama lo," ucap Tania sambil terus menunduk.

Aku mencubit pipiku, meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan sekedar mimpi basah di tengah malam. Ini sungguhan. Terdengar konyol dan kekanak-kanakan memang, tapi aku kenal Tania, dia bisa saja seperti itu. Mungkin ini hanyalah nafsu sesaatnya. Mungkin ia tak punya perasaan apa-apa padaku, dan dia, di luar dugaanku, mungkin memang agak naif dalam urusan semacam ini.

"Yaudah, gue cuma bercanda kok! Nggak juga nggak apa-apa. Tapi lo udah janji ya nggak akan bilang siapa-siapa," ucap Tania tiba-tiba, sambil tertawa yang dipaksakan, tapi ada sorot kecewa dari matanya.

Aku tak tahan lagi, aku tak mau bersikap munafik. Aku langsung melangkah maju dan memeluk tubuh Tania. Tubuhnya yang langsing dan tinggi sekarang berada di dalam dekapanku. Aku dapat merasakan kehangatannya, kelembutan dan kerapuhannya, begitu juga dengan wangi rambutnya yang membuatku melayang. Lalu kutatap matanya, dan kukecup bibirnya dengan lembut. Kecupan itu berubah jadi lumatan, lalu hisapan, bahkan sesekali ia memainkan lidahnya.

"Mmmhh..."

Hanya suara lenguhan pelan yang terdengar di antara kami. Bibirnya terasa manis dan lembut, seperti mengirimkan sensasi luar biasa di seluruh mulutku. Tak lama kemudian, ia memaksaku melepaskan ciuman.

"Bego dasar! Gue nggak minta dicium, tapi gue minta lo remesin toket gue!" ucapnya sambil menahan tawa.

Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak. Kedengaran seperti lelucon yang sangat konyol.

Aku duduk di atas kasurnya, "Tania, sini duduk, gue pangku."

Tania melangkah sambil tersenyum malu-malu, lalu duduk di pangkuanku dengan posisi menghadap belakang. Aku dapat merasakan pinggul dan pahanya yang hanya dibalut legging tipis. Dan aku menduga ia juga bisa merasakan tonjolan kontolku di pantatnya, tapi ia tak bilang apa-apa.

"Oh iya, Di. Lo jangan macem-macem ya. Kita masih tetep temenan, jadi lo jangan ngelakuin hal yang lebih ya," ucap Tania.

"Iya, gue ngerti kok. Gue nggak akan ngelakuin yang nggak lo minta,"

Aku melingkarkan tanganku di pinggang Tania, lalu mulai meraba perutnya yang rata dari luar kaos.

"Perut lo six pack ya?" tanyaku, bercanda. Ia hanya tertawa.

Lalu rabaan kedua tanganku naik ke atas, ke arah dua tonjolan di dadanya, namun sebelum menyentuh bagian itu, segera kubelokkan ke arah ketiak.

"Duuh Adi... Please dong. Lo lebih suka megang ketek daripada toket ya?" Tania meledek.

"Haha. Iya, iya."

Kugunakan jari-jemariku untuk menyentuh buah dada Tania, kutelusuri permukaanya, lalu kutekan-tekan sedikit. Rasanya lembut dan kenyal, jauh lebih intens dari yang aku rasakan waktu di bioskop. Dan ternyata ia tidak memakai bra, mungkin karena tadi sedang bersantai di kamar.

"Mmmh...," Tania melenguh pelan, seperti ditahan.

Lalu kupijat lembut kedua payudaranya dari luar kaos. Kuremas-remas pelan. Ternyata ukurannya tidak sekecil yang terlihat dari luar kaos, bahkan gunungnya masih cukup memenuhi telapak tanganku. Selain itu, bentuknya juga bulat dan kencang, sama sekali tidak kendor atau menggantung. Semakin lama pijatanku semakin kuat, kuremas dari bagian pangkal hingga ke putingnya. Samar-samar aku dapat merasakan putingnya yang sudah sangat keras. Langsung saja kuelus-elus menggunakan jari.

"Haaaah... Di, pelan-pelan dong," ucap Tania dengan nafas yang penuh desahan.

Mendengar suara desahannya, kontolku menjadi tegang dengan sempurna, mendesak ke arah pantat Tania.

"Gue nggak ngerti nih, rasanya gue udah gila deh. Bisa-bisanya sekarang toket gue diremes-remes sama sahabat gue sendiri..., dan sekarang, tongkol sahabat gue itu ngaceng di pantat gue," ujar Tania di sela desahan nafasnya, dan berusaha untuk tertawa.

"Gue juga ngerasa ini bener-bener aneh," ucapku sambil terus meremas buah dadanya.

"Iya, aneh. Tapi enak. Ahhh...," Tania mendesah panjang ketika kuremas bagian putingnya.

Perlahan-lahan, Tania menggerakkan pinggulnya, memberikan gesekan pada kontolku .

"Uhhh... gila, enak rasanya," ujarku.

"Gue kasih bonus tuh dikit, hihi," ucap Tania.

"Mau gue isep pake mulut ga?" tanyaku padanya. Sekarang rasa malu dan canggungku kepadanya sudah hilang entah kemana. Mungkin tenggelam di lautan nafsu.

"Mmmmh... Iyah... mau," ucap Tania. Kemudian ia langsung berdiri dan membalikkan badan. Lalu ia duduk lagi di pangkuanku, kali ini saling berhadapan.

"Kaosnya buka dulu dong," ucapku sambil menunjuk kaos putihnya yang sudah lecek di bagian dada.

"Nggak ah...! Nggak mau!" tolaknya sigap.

"Lah, katanya mau diisep?" tanyaku.

"Ya lo isep dari luar kaos aja, gimana?"

"Susah dong...."

"Pokoknya gue nggak mau buka baju, gue takut kebablasan ntar. Bahaya Di, kita kan cuma temenan. Lagian gue masih perawan gitu lho."

Dasar aneh, gumamku dalam hati. Namun aku tetap menghargainya, bisa begini saja sudah merupakan mukjizat bagiku. Langsung kudekatkan kepalaku ke arah dadanya, lalu kuciumi buah dadanya dari luar kaos. Kucoba untuk menghisapnya. Rasanya pahit, kaos ini rasanya tidak enak.

"Yaudah, gue kasih bonus lagi," ucap Tania sambil menggoyangkan pinggulnya lagi. Kali ini kontolku bergesek-gesekan dengan vaginanya secara tidak langsung. Rasanya membuatku kembali bergairah. Kugigit-gigit buah dadanya yang kanan, sementara yang kiri aku remas-remas.

"Mmmmhh... Di... this is... our dirty little secret," ucap Tania.

Tiba-tiba saja ponsel Tania berdering. Merasa terganggu, aku menghentikan aktivitasku. Tania menoleh ke arah ponselnya, lalu segera meraihnya sambil tetap duduk di pangkuanku.

"Cuma SMS," kata Tania.

"Siapa?" tanyaku.

"Dari Santi. Dia bilang... dia lagi di jalan mau ke sini, lima belas menit lagi sampe," jawab Tania sambi mengerutkan dahi.

"Wah gawat, berarti kita harus udahan nih," ucapku. Aku mulai panik, akan jadi bencana kalau sampai salah satu dari rangers lain mengetahui perbuatan kami.

"Sebentar, jangan dulu," ucap Tania.

"Tapi sebentar lagi Santi mau kesini kan? Lo nggak mau kan kalau Santi sampe tau atau curiga?" tanyaku.

"Iya, gue ngerti kok. Tapi masih ada lima belas menit. Please,"

Tiba-tiba Tania menyentuh kontolku dari luar celana, lalu membuka restletingnya. Ia menatapku dan tersenyum, "gue kocokin deh, yah?"

Aku tak sanggup menolak.'

Tania umurnya sedikit lebih muda dariku, tapi meski begitu ia adalah orang yang cerdas, terutama dalam masalah pelajaran. Aku pertama kali mengenalnya saat kami satu kelas dalam sebuah mata kuliah. Waktu itu aku sudah akrab dengan Galih dan Rian, Tania juga sudah akrab dengan Santi. Lalu kami berkenalan, dan mungkin itulah awal mulanya geng Power Rangers terbentuk.

Aku ingat bagaimana aku adalah orang yang paling canggung di hadapan perempuan, bahkan terhadap Tania. Karena ia memang supel dan ramah, ia yang selalu mendekatiku lebih dulu, hingga aku akhirnya bisa mengenal dia lebih akrab. Dia yang selalu aktif memulai candaan saat kami sedang nongkrong, lalu biasanya akan ditimpali oleh Santi dan Galih dengan cara yang konyol, bahkan cenderung gila. Rian cenderung waras, dan aku lebih waras lagi.

Bukan rahasia lagi kalau banyak cowok di kampus yang naksir pada Tania, baik senior ataupun junior. Namun Tania tampaknya tidak punya keinginan untuk pacaran dan hanya senang berteman. Dia pernah curhat bahwa dulu ia pernah disakiti seorang cowok, dan itu membuat dia jadi anti terhadap status pacaran. Lagipula, semua orang setuju kalau Tani adalah tipe cewek yang asik dijadikan teman, dan tidak cocok dijadikan kekasih.

Tapi aku berbeda. Aku punya perasaan yang lebih dari sekedar teman. Dan lucunya, cewek yang kusukai secara diam-diam itu kini sedang duduk di sampingku, tangannya pelan-pelan membuka restleting celanaku, sementara bibirnya tersenyum antusias.

"Gapapa kan, kalo gue pegang barang lo?" tanya Tania.

Aku hanya mengangguk. Mana mungkin aku menolak.

Setelah restleting celanaku terbuka, terlihatlah celana dalam coklatku yang sudah menonjol menahan desakan penis. Ujung jari telujuk Tania yang lentik itu pelan-pelan mengelus kontolku dari luar CD. Aku benar-benar sulit percaya, jari-jemari yang lentik dan indah itu sekarang mulai memijit-mijit kelaminku.

"Geli, Tan..." aku meringis.

"Waw, ternyata kaya begini ya. Gue baru pertama kali megang barang cowo," ucap Tania.

"Gue juga baru pertama kali diginiin."

"Emang ga sakit ya, ketahan celana kaya gini?" tanya Tania.

"Yah, sedikit sakit sih."

"Keluarin aja ya?"

"Iya deh."

Pelan-pelan, Tania menarik ke bawah ujung celana dalamku, dan seketika itu juga kontolku yang sudah tegak langsung mencuat keluar. Melihat benda keras dan panjang itu tiba-tiba berdiri di hadapannya, Tania tampak kaget.

"Buset! Kaget gue. Hmmm... bentuknya gini ya," ucap Tania. Sekarang jari-jemarinya meraba-raba batang kontolku .

"Uhhh... emangnya lo baru pertama liat?" tanyaku sambil menahan desahan.

"Gue pernah liat lah, di film bokep. Tapi agak beda..." jawab Tania sambil mengelus-elus kepala kontolku yang terlihat seperti topi tentara.

"Beda? Masa sih?"

"Iya, kalo di film sih, agak... lebih gede gitu," Tania tertawa pelan. Sialan, aku diledek. Inilah akibatnya kalau cewek suka nonton bokep bule. Membandingkan seenaknya.

"Huh."

"Becanda ih... haha..." Tania menjulurkan lidah. Oh seandainya saja lidah itu mau bergesekan dengan kulit kontolku . Tapi aku tak berani meminta, "menurut gue punya lo pas banget di tangan," ucap Tania.

Sekarang Tania menggenggam batang kontolku dengan telapak tangannya. Rasanya ada sensasi dingin dan hangat sekaligus. Lalu ia mulai menggerakkannya naik turun. Oh, nikmatnya, dia mulai mengocok. Tapi tiba-tiba ia melepaskan lagi genggamannya. Lho, kenapa?

"Sebentar ya," ucap Tania sambil beranjak berdiri.

Aku hanya mengangguk bingung. Ternyata ia berjalan ke arah lemari dan mengambil sebotol body lotion.

"Kasian kalau anak orang sampe gue bikin lecet. hehe," ucapnya.

Ia meneluarkan lotion pemutuh kulit itu, lalu mengoleskannya di batang kontolku . Lalu ia mulai mengocoknya lagi, perlahan, namun semakin cepat. Ohh, sekarang rasanya lebih lancar dan lebih nikmat.

"Awhhh..." aku tak kuasa menahan nafas yang semakin memburu.

"Enak ya, Di?" tanya Tania sambil menatap ekspresi wajahku.

"Enak," jawabku.

"Enak banget?" tanyanya lagi.

"Iya, enak banget."

"Enak sih enak, tapi tangan lo jangan diem aja dong...," ia protes.

"Oh iya, hehe, sori."

Aku langsung menggunakan kedua tanganku untuk meremas-remas buah dadanya dari luar kaos. Remasanku kini lebih liar karena aku terasa semakin menikmati kegiatan ini. Lalu kami berciuman, ciuman yang penuh nafsu antar dua orang sahabat. Lidah kami bertautan dan saling jilat. Samar-samar terdengar suara gesekan tangan Tania dengan kontolku yang sudah diolesi lotion.

Tanpa meminta izin, tanganku menyusup ke balik kaosnya. Dia kan cuma bilang tidak boleh buka baju, kalau menyelipkan tangan kan dia tidak melarang. Langsung saja kuremas buah dada kanannya. Uhh, sensasinya berbeda. Sekarang kulit tanganku bergesekan langsung dengan kulit payudaranya, rasa kenyal dan lembutnya benar-benar terasa.

"Mmmmhh... ahh.. nakal ya...," gumam Tania. Tapi ia tidak membuat perlawanan.

Tanganku sekarang memilin-milin puting susunya, membuat puting yang sudah keras itu menjadi semakin keras. Sesekali kupencet lembut, dan itu membuat Tania menarik nafas dalam.

"Di... mmmhhh.... terus Di, enak," merasakan kenikmatan yang lebih, Tania semakin mempercepat kocokannya. Aku jadi semakin ingin ejakulasi, tapi kutahan dulu.

Leher Tania yang jenjang dan mulus itu kucium dan kujilat-jilat. Wangi badan dan rambutnya membuatku merasa semakin nyaman. Selain itu lehernya benar-benar bersih, tak ada cacat sedikitpun.

"Adi... mmmhh... ini cuma sekali ini aja ya. Kita akan tetep jadi temen dan sahabat. Mmmhh... jangan sampe ada yang tau, ya?" ucap Tania di sela-sela desahannya.

Aku tidak menjawab, dan malah menggigit pelan leher Tania. Lalu aku menarik ke atas kaos yang dikenakan Tania. Aku tarik terus hingga ke dekat leher, sekarang kedua payudaranya terlihat jelas di hadapanku. Bentuknya sungguh indah, bulat dan putih bersih, putingnya berwarna coklat agak pink.

"Gue jadi malu...," ucap Tania sambil tersipu.

"Toket lo bikin gemes," ucapku.

Perlahan-lahan kujilat ujung puting Tania, kubelai-belai dengan lidahku.

"Aaaahhh! Geli!" Tania berteriak.

Setelah itu kubuka mulutku dan kulahap buah dada itu. Aku hisap, buah dada yang sebelah kanan, bergantian dengan yang sebelah kiri. Sesekali kujilat permukaan gunungnya.

"Oooh... terus Di, kenyot terus, sedot Di... Mmmmhhh..."

Benar-benar luar biasa. Kemarin malam aku merasa senang hanya dengan menyenggol benda ini, tapi sekarang, aku bisa menjilat dan menghisap-hisapnya.

"Putingya, Di... Akhhh..., iyah, kaya gitu... ahhh...."

Setelah menjilat dan menghisap kedua bukit kembar itu terus menerus, aku berinisiatif untuk menggigit putingnya, pelan-pelan.

"Aw!" jerit Tania.

Kocokan Tania di kontolku semakin cepat dan rapat. Mendengar suara desahannya yang seksi serta merasakan payudaranya yang kenyal membuat aku benar-benar tidak tahan lagi sekarang. Aku ingin lebih. Aku ingin percumbuan ini berlangsung hingga klimaks. Aku ingin....

Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Tania dari luar. Lalu sebuah suara terdengar.

"Tan..., Tania...," itu suara Santi!

Kami terhenyak. Rupanya karena keasyikan, kami sampai lupa batas waktu lima belas menit tadi. Bagaimana ini? Tania tampak kaget dan wajahnya pucat. Kalau sampai skandal ini ketahuan, habislah riwayat kami. Bisa-bisa persahabatan geng Power Rangers bisa berantakan.

Mungkin karena panik atau bingung, Tania bukannya buru-buru mengakhiri permainan ini, ia malah terus mengocok kontolku . Aku sudah tak sanggup mengendalikan diri lagi.

"Tan, gue... mau ke... keluar...."

"Hah?!" Tania kaget, mulutnya menganga.

Seketika itu juga kontolku berdenyut-denyut dan muncratlah cairan sperma berkali-kali. Tania secara refleks menjauhkan kontolku dari tubuhnya, dan itu malah membuat spermaku muncrat kemana-mana. Sebagian ada yang tumpah di kaos Tania, di tangannya, dan sebagian lagi ada yang muncrat ke lantai dan dinding. Gila, rasanya sungguh nikmat.

"Tania.... ini gue Santi. Lagi ngapain sih lo? Tidur ya?" suara Santi terdengar menggumam dari balik pintu.

"Aduh, gimana ini?" Tani berbisik sambil memperhatikan tangan kirinya yang belepotan spermaku.

"Bersihin dulu!" bisikku padanya.

"Iya, sebentar San! Gue lagi ganti baju nih, abis mandi!" ucap Tania, setengah berteriak.

Dengan gerakan cepat, Tania mengambil tissue dan mengelap spermaku yang menempel di tangan dan kaosnya. Lalu ia mengambil kain lap dan membersihkan spermaku yang menempel di lantai dan dinding.

"Cepetan dong, Tan... Ganti baju aja lama banget sih lo?" ucap Santi dengan tidak sabar.

Tania mengambil air minum dari galon, lalu membasahi rambutnya sendiri. Mungkin agar terlihat seperti habis mandi.

Lalu ia melotot padaku dan berbisik, "Di, ngumpet di kolong tempat tidur! Cepet!"

Aku terkejut. Tampaknya tak ada tempat bersembunyi lain, jadi aku langsung menuruti perintahnya.

Kira-kira tiga menit kemudian, persiapan sudah selesai. Aku sudah bersembunyi di kolong tempat tidur dan hanya bisa mendenga suara mereka. Untunglah seprei tempat tidur ini panjang sampai ke lantai, jadi sepertinya Santi tidak menyadari keberadaanku.

"Duh, lama amat sih lo, baru dibukai sekarang," terdengar suara Santi.

"Sori, sori, tadi gue lagi pake handuk," jawab Tania.

Setelah itu aku dengar mereka mengobrol dengan suara yang kurang jelas. Mungkin Santi sedang menggumam. Lalu tak lama kemudian, aku merasakan ada yang duduk di atas tempat tidur.

"Ihh... ini apaan Tan ?" suara Santi terdengar dari atasku.

"Hah? Apaan?" suara Tania.

"Ini, gue kan meluk boneka kucing lo, tapi kok ada lendir lengket gini ya? Idiih... apaan nih...?" ujar Santi.

DEG! Jantungku serasa berhenti berdetak. Gawat. Sepertinya ada yang kelewatan waktu proses bersih-bersih tadi!

Selama beberapa detik, suasana menjadi hening. Entah apa yang terjadi di luar sana.

Namun tiba-tiba Tania bersin, "hachiiii!!!"

"Woooaaahh...! Hiiiiiiiyyyy! Jadi ini ingus lu? Jorok banget sih lu, cewek macem apa sih lu, ga nyangka gue punya temen jorok kaya lo. Idiiih," ucap Santi beruntun.

"Ya... abisnya... gue lagi pilek banget nih, sori..." ucap Tania dengan suara yang dibuat lesu.

"Pilek sih pilek, tapi ingusnya jangan dilap ke boneka dong," ucap Santi menggerutu.

Perasaanku menjadi lega. Untunglah, sepertinya Santi percaya. Selama setengah jam kemudian, mereka berdua mengobrol panjang lebar, khas anak cewek. Dan setelah itu, aku dengar bahwa Santi tidak bisa berlama-lama, karena ia ada urusan lain dan juga agar Tania yang sedang "pilek" bisa beristirahat.

"Yaudah, Tan. Lo istirahat dulu ya. Besok pagi gue mampir ke sini lagi deh. Cepet sembuh ya!" ucap Santi.

"Iya, thanks ya."

Suara pintu ditutup. Sepertinya Santi sudah keluar. Tak lama kemudian, seprei kasur disibak oleh seseorang, dan Tania melongok ke kolong kasur, ke arahku yang sedang merayap seperti cicak.

"Huff... Hampir aja kita mampus...." ujar Tania.

Aku membuang nafas lega. Untungnya aku membuat skandal dengan perempuan yang kreatif.

Setelah Santi pergi, sebenarnya aku sempat berharap agar permainan kami dilanjutkan. Tapi Tania ternyata menolak, mungkin peristiwa menegangkan tadi sudah membuat mood-nya turun, atau malah membuat dia kapok. Aku tidak bisa memaksa, sebab semua ini memang dia yang memulai. Tapi aku tidak terlalu kecewa,setidaknya aku sempat mengalami ejakulasi tadi, jadi nafsuku lumayan bisa dikendalikan.

"Di, lo inget ya..., besok kita ketemu di kampus, lo anggep semua ini ngga pernah terjadi," ucap Tania saat aku pamit. Aku mengangguk saja sambil tersenyum, padahal mana mungkin aku bisa melupakan kejadian tadi. Mustahil.

----------------------------------------

Esok paginya, aku pergi ke kampus seperti biasa, kebetulan pagi ini mata kuliahku tidak ada yang satu kelas dengan geng Power Rangers, jadi aku tak terlalu khawatir. Dosen memberikan materi panjang lebar hingga membuatku mengantuk, untungnya bel segera berbunyi.

Saat keluar beberapa langkah dari ruangan kelas, tak sengaja aku menabrak seseorang. Ia tidak terjatuh, tapi sebuah majalah yang ada di tangannya yang jatuh. Aku memperhatikan orang yang kutabrak itu. Seorang mahasiswi, lebih tepatnya adik kelas. Aku tidak kenal dekat dengannya, tapi kami saling tahu nama. Namanya adalah Ghea, satu tingkat di bawahku. Ia cukup populer di kampus karena wajahnya yang cantik dan pandai bergaul. Tubuhnya lebih mungil dan lebih kecil dari Tania, tapi wajahnya tak kalah manis, aku menebak dia ada keturunan cina karena kulitnya putih mulus dan matanya agak sipit. Ia memakai kemeja kotak-kotak yang tampak kebesaran dan mengenakan kacamata berframe warna maroon, namun sama sekali tidak membuat dia terlihat kutu buku. Terlebih lagi, ia adalah seorang vokalis band yang cukup sering manggung di acara-acara kampus.

"Eh sori, ngga sengaja," ucapku.

"Ngga papa Kak, saya yang ngga liat," jawabnya sambil memungut majalah yang jatuh.

Selama beberapa detik kami bertatapan. Aku merasa ada yang aneh dengan tatapannya, hingga kemudian aku sadar kalau geng Power Rangers sudah menungguku di seberang sana. Ada Tania juga yang sedang menatapku. Apa ya yang dia pikirkan?

"Woy, sini!" ucap Rian sambil melambaikan tangan.

Sambil mengangguk pelan aku meninggalkan Ghea dan bergegas ke tempat mereka. Semua anggota geng berkumpul, kecuali Galih. Santi sedang asik mengunyah biskuit dan Tania tampak serius mengetik di handphonenya. Aku melirik sekilas, dan Tania ikut menoleh, tapi ia cepat-cepat kembali menatap layar handphonenya. Jantungku berdetak kencang, dan bersamaan dengan itu kontolku mengeras sedikit. Tapi kenapa dia tidak tersenyum? Apakah dia juga sama canggungnya denganku?

"Gimana, sore ini ada acara nggak?" Rian bertanya sambil menepuk pundakku.

"Ada apa Yan?"

"Kok ada apa? Kan tiga hari lagi UAS, kita belajar bareng dong. Kan mata kuliah kita banyak yang sama. Gimana?" jawab Rian.

"Kok tumben?" balasku.

"Tau nih, anak ini tiba-tiba sok rajin gitu. Paling-paling dia ga punya catetan dan males baca buku," ujar Santi.

"Ayolah... Si Galih udah setuju, dia nyediain tempat dan konsumsi gratis. Oke kan?" ucap Rian. Aku dan Santi mengangguk setelah mendengar kata konsumsi gratis.

"Lo gimana Tan, bisa?" tanya Santi.

Tania agak terkejut dan menoleh dengan tiba-tiba, "Oh bisa kok bisa, ngga masalah."

Singkat cerita, setengah jam kemudian kami pun berangkat ke rumah Galih menggunakan mobilnya. Rian duduk di depan bersama Galih, sementara aku, Tania, dan Santi duduk di belakang. Santi di kiri, Tania di tengah, dan aku di kanan. Berada dalam jarak dekat dengan Tania membuatku sangat canggung, apalagi kalau mengingat kejadian kemarin. Mungkin karena merasa tidak enak, Tania akhirnya membuka pembicaraan.

"Eh lo udah ngerjain tugasnya Pak Johan belum?" ucap Tania menyebutkan nama seorang dosen.

"Oh, belum tuh," jawabku.

"Yah, tadinya gue mau nyontek. haha," ia tertawa.

"Huh, kenapa sih hari ini orang-orang pada seneng ngomongin pelajaran? Mendadak rajin ya?" gerutu Santi, dibalas cubitan dari Tania, lalu mereka bercanda seperti biasa. Perasaanku sedikit lega.

Tak sampai setengah jam, kami pun tiba di rumah Galih. Rumahnya besar dan mewah, di garasi berderet dua buah mobil milik orangtuanya.Saat kami masuk ke ruang tamu, Sherly, adiknya Galih sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Sherly masih duduk di bangku SMA, rambutnya bergelombang, dan wajahnya imut. Ia duduk menyamping dan memperlihatkan pahanya yang putih mulus karena memakai hotpants.

"Baca majalah jangan di ruang tamu," ucap Galih ketus.

"Emang napa? Suka-suka gue dong!" balas Sherly.

"Nanti ngga ada orang yang mau bertamu ke rumah kita!"

Plak! Majalah itu melayang dan menghantam wajah Galih. Kakak-adik ini memang senang bertengkar sejak dulu, tapi kami tahu mereka sebenarnya akur. Tanpa memperpanjang pertengkaran itu, kami beranjak ke kamar Galih. Kamar yang nyaman, sejuk karena ber-AC, dan untuk ukuran kamar cowok lumayan rapi. Kami pun memulai acara belajar kelompok.

Ketika kami sedang membolak-balik buku pelajaran dan bertukar catatan, tiba-tiba saja Rian berteriak.

"Apaan tuh!" teriak Rian sambil menunjuk-nunjuk.

"Kenapa sih lo, kaya Jaja Miharja aja," umpat Santi.

Rian segera merangkak ke kolong tempat tidur Galih dan mengambil sesuatu dari dalam sana.

"Bokep coy!" ucap Rian sambil memperlihatkan sebuah kotak DVD bergambar perempuan Jepang tanpa busana. Kami semua tertawa terbahak-bahak.

"Kaya anak SMP aja lo, masih ngumpetin kaya gituan," Tania tertawa.

"Masih jaman ya, nonton bokep pake DVD?" aku ikut menimpali.

"Itu DVD original import dari Jepang langsung. Ngiri ya lo semua? Bisanya cuma download bajakan kan?" ucap Galih sambil berusaha merebut DVD itu.

"Ah bokep ya bokep, apa bedanya bajakan atau original? Coba nyalain," balas Rian.

Rian segera memasukkan DVD itu ke dalam laptopnya yang kebetulan sudah dinyalakan. Hanya dalam beberapa detik, terpampanglah adegan wanita Jepang yang cantik sedang berciuman dengan seorang lelaki. Payudara wanita itu berukuran besar, diremas-remas dan dihisap-hisap oleh aktor lelaki. Kami semua fokus menonton adegan itu.

"Buset, gede ya toketnya. Kayanya enak tuh," ucap Rian agak berbisik.

"Iya, nggak kaya cewe-cewe di kelompok kita, rata semua kaya triplek!" ujar Galih. Kami melirik pada Tania dan Santi.

"Sialan lo!" ucap Tania sambil memukul pundak Galih menggunakan kertas.

"Tapi punya gue masih lebih gede daripada punya Tania, tau...," ucap Santi pelan.

Galih dan Rian tertawa terbahak-bahak, sementara Tania melotot dan mulai mencubiti Santi.

Aku refleks bergumam, "Hehehe, tapi yg kecil-kecil tu bikin gemes."

Tania melirik ke arahku dan menjulurkan lidah, sementara anak-anak yang lain sepertinya tidak mendengar gumamanku.

Acara 'belajar kelompok' masih terus dilanjutkan. Adegan-adegan di monitor semakin hot, dan harus kuakui kalau kontolku sudah menegang di balik celana. Tania kebetulan duduk di sebelahku, ia merapatkan posisi duduknya agar bisa melihat laptop dengan jelas. Saat ia merapat, dadanya berada di belakang siku tanganku, dan entah disengaja atau tidak, ia mulai menggesek-gesekkannya. kontolku semakin keras.

Pelan-pelan aku ikut menggerakkan siku tanganku, misalnya dengan pura-pura menggaruk leher. Kenyalnya payudara Tania bisa kurasakan samar-samar, sementara itu hembusan nafasnya menjalar di leherku. Untung anak-anak yang lain tidak ada yang sadar.

Saat suasana semakin hot, tiba-tiba pintu kamar diketuk, Rian yang kaget segera menutup laptopnya. Ternyata pembantu Galih membawakan minuman. Aku menghela nafas, Tania juga menggeser duduknya lebih menjauh. Aku dapat melihat wajahnya yang merona merah.

Setelah itu, acara belaajr kelompok dilanjutkan secara normal. Kira-kira satu jam kemudian, kami pun memutuskan untuk pulang. Sayangnya, mobil Galih sedang dipakai, jadi kami harus pulang menggunakan kendaraan umum. Hampir lima belas menit di dalam bus, Rian dan Santi turun lebih dulu, sebab rumah mereka memang lebih dekat. Tinggal aku dan Tania yang tersisa di bus, aku pindah duduk ke sebelahnya. Bus yang kami naiki kebetulan sedang sepi, mungkin karena sekarang sudah lewat jam pulang kantor. Duduk bersebelahan dengan Tania tanpa ada orang lain di sekitar, membuatku merasa agak aneh.

"Kenapa Di, diem aja?" ucap Tania. Ia duduk di samping jendela, tirainya ditutup karena silau.

"Ngga kok, ngerasa aneh aja," aku tertawa.

"Biasa aja lagi."

Selama beberapa menit, kami terdiam. Mungkin Tania juga merasa tidak enak karena aku tidak menimpali obrolannya. Tapi jantungku berdebar kencang ketika membayangkan kejadian kemarin. Rasanya ada yang masih mengganjal. Pelan-pelan aku menggerakkan tanganku ke pundak Tania, aku ingin merangkulnya, aku ingin memeluknya, ingin merasakan kehangatan tubuhnya lagi. Tania hanya diam, ia menatap ke jendela meskipun tidak terlihat apa-apa. Jantungku berdetak semakin kencang. Entah karena gugup atau merasa tertantang karena kami sedang berada di dalam bus. Perlahan-lahan tanganku turun ke pinggangnya. Aku dapat merasakan pinggangnya yang ramping dibalik balutan kaosnya yang sempit. Setelah memastikan tak ada orang yang melihat, kudekatkan wajahku ke pipinya.

Plak!

Ia menamparku. Keras sekali, bahkan bunyinya terdengar jelas. Aku kaget bukan main, segera kutarik tanganku menjauh darinya.

Sambil menatapku, Tania berbisik kesal, "Kan gue udah bilang kemarin, cuma sekali itu aja! Kalo kita ketemu lagi, gue minta lo anggap yg kemarin itu ga pernah terjadi, ngerti kan?"

Nyaliku langsut ciut diomeli seperti itu. Perasaan kecewa dan malu bercampur aduk di dalam kepala, betapa bodohnya aku. Kalau memang aku mencintainya, seharusnya aku bisa memahami perasaannya. Aku kecewa pada diriku sendiri, jangan-jangan perasaan ini sudah berubah menjadi nafsu mesum semata. Sepanjang perjalanan hingga Tania turun terlebih dulu, aku hanya menundukkan kepala. Kami tidak berbicara sepatah kata pun.

Aku tiba di kostan dengan perasaan sedih. Aku tidur-tiduran di atas kasur sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah persahabatanku dengan Tania akan berakhir karena masalah ini? Tidak mungkin. Aku mengambil HP dan mengirim SMS ke Tania.

'Tan, maaf ya, tadi gw khilaf'

Aku diam menunggu balasan, tapi tak juga ada SMS yang masuk. Selama beberapa menit perasaanku terus gelisah hingga tiba-tiba saja handphoneku berbunyi, aku melonjak kaget. Telepon, dari Tania.

"Di, lo lagi di kostan?" tanya Tania.

"Iya." jawabku.

"Gue ke sana ya sekarang!"

"Eh, tapi, tapi...."

Tania menutup teleponnya. Sebenarnya aku ingin bilang kalau aku ingin meminta maaf soal kejadian tadi, tapi ia tampak terburu-buru. Untuk apa ia datang ke sini? Aku menunggu dengan jantung berdebar.

Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tahu siapa dia. Aku bergegas berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di balik pintu ada Tania yang berdiri sambil tersenyum. Ia mengenakan kaos biru bergaris dan celana jeans. Aku sadar, senyumnya padaku menandakan bahwa ia sudah tidak marah lagi. Aku langsung mempersilahkannya masuk ke dalam kamar.

"Di, sori ya soal yang tadi. Gue sebenernya gugup, jadi kebawa emosi. Gue ngeri soalnya kita lagi di bus. Suer, ngga ada maksud kasar kok," ujar Tania sambil duduk di atas tempat tidurku.

"Ngga, Tan, harusnya gue yang minta maaf. Gue yang salah, ngga inget janji gue sendiri" ucapku.

"Sebenernya gue juga melanggar janji kok waktu di rumah Galih tadi." Tania tersenyum.

"Waktu nonton bokep tadi ya? Itu emang sengaja ngegesek-gesekin?" tanyaku. Tania mengangguk, lalu kami berdua tertawa.

"Liat sini deh," ucapnya tiba-tiba.

Aku menoleh ke arah Tania dan menatap matanya. Matanya yang indah membuatku terhipnotis. Pelan-pelan ia menyentuh pipiku dan mengelus-elusnya.

"Masih sakit bekas tamparan gue tadi?"

"Masih. Tenaga lo kaya babon sih."

"Sialan lo! Mau gue tabok lagi?" ujar Tania sambil tertawa.

Dengan gerakan cepat, ia mengecup pipiku. Aku menahan nafas karena kaget.

"Udah? Udah ngga sakit kan?"

Aku tersenyum, membalas senyumannya. Hatiku sekarang terasa tentram dan damai. Rasanya aku jatuh cinta kepadanya, aku benar-benar jatuh cinta. Lalu kami bertatapan tanpa bicara, diam dan hening. Lalu bibirnya bergerak mendekat dan mencium bibirku. Bibirnya lembut dan hangat. Aku tak bisa tinggal diam, aku membalasnya, mencium bibirnya dengan penuh nafsu.

"Mmmh... Di... Mmm..," desahan Tania terdengar di antara ciuman.

Sambil terus melumat bibirnya, aku mendorong dia ke tempat tidur. Ia jatuh terlentang. Aku cium lehernya pelan-pelan, lalu aku jilati lehernya hingga ke dagu. Ia mendesah agak keras.

"Geli..."

Setelah puas menyantap lehernya, aku kembali menatap wajahnya, dan kami tersenyum.

"Kemarin gue pikir, itu untuk yang pertama dan terakhir. Tapi ternyata... kemarin kan cuma lo aja yg dapet kenikmatan... lo masih utang satu sama gua, Di...." ucap Tania.

"Mau kaya kemarin lagi?" aku memijat-mijat payudaranya dari luar kaos dengan perlahan. Ternyata ia tidak memakai bra.

"Ahhh.... Buka aja kaos gue, ngga apa-apa lah," ucap Tania.

Aku menarik kaosnya ke atas, dan ia juga membantu melepaskannya. Terlihatlah di hadapanku tubuhnya yang topless. Perutnya langsing dan rata, kulitnya mulus, dan dua buah payudara yang berukuran kecil namun bulat sempurna dan proporsional.

"Mmm.. toket gue ngga segede yang di film tadi ya?" ia memanyunkan wajahnya.

"Kan gue udah bilang, yg kecil tu bikin gemes."

Tania tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang putih. Aku mencium keningnya.

"Terus, lo pengen diapain nih?" ucapku menggoda.

"Terserah lo mau ngapain aja sekarang, tapi kalo gue bilang stop, lo mesti berenti ya?" ucap Tania sambil mengusap rambutku.

"Tenang aja," ucapku. Sepertinya Tania sudah tidak segugup kemarin. Mungkin karena ini sudah bukan yg pertama.

Aku mulai membelai payudaranya dengan kedua tangan. Dengan perlahan aku mengelus daerah seputar putingnya, lalu kujilat dengan ujung lidah. Ia mengerang. Lalu aku mulai menyedotnya, aku hisap puting kanannya yang sudah menegang.

"Gila.. nikmat banget..., yang kiri juga Di... isep juga.... ahhh"

"Sabar dong, gue ngga kaya lo, mulut gue cuma satu."

"Sial, dasar," ia tertawa.

Aku meremas-remas payudara kanannya, lalu yang sebelah kiri kujilat-jilat dan kuhisap. Ia kembali mendesah. Aku gigit pelan putingnya, ia menjerit kecil. Lalu kujilati lagi sampai basah.

"Uhh... untung sekarang di tempat lo, jadi ngga akan digangguin Santi lagi," ucapnya sambil mendesah, "handphone juga gue matiin."

"Bener juga ya, untung kamar sebelah lagi pada pulang kampung," aku memijat-mijat kedua payudaranya.

Ciumanku turun ke perutnya. Perut yang rata dan halus, wangi parfum perempuan yang manis. Aku memainkan lidahku di daerah pusarnya, ia menggelinjang.

Tanpa minta izin, aku membuka kancing celana jeansnya dan menariknya ke bawah. Tania tidak menolak, ia malah membantu mengangkat pinggulnya. Setelah celana itu berhasil dilepas, aku dapat melihat celana dalam warna hijau muda yang ia kenakan yang tampak agak basah. Pahanya sangat mulus, membuatku langsung mengelus dan menciuminya.

"Hahhh... Di... Mmhh,"

"Kenapa?"

"Mem3k gue blum pernah disentuh cowo..."

"Gue juga blum pernah nyentuh punya cewe... Mau stop aja?"

"Mmmh... Dikit aja deh..," ucapnya dengan wajah yang sayu.

Dengan gerakan yang lembut, aku menggesek-gesek ujung jariku ke celana dalamnya, tepat di bagian vagina.

"Gimana rasanya?" tanyaku.

"Aaahh.. enakk... terus Di,"

Aku menjilati pahanya yang mulus, dan kemudian naik ke arah selangkangannya. Dapat kurasakan kakinya menegang karena keenakan, lalu tanpa memberitahunya terlebih dahulu aku melepaskan celanaku.

"Ngapain lo buka celana?" ia memperhatikan kontolku yang sudah berdiri tegak dihadapannya.

"Ngga ngapa-ngapain, soalnya sesak udah tegang banget."

"Sabar, ntar gue kocokin lagi kaya kemarin. Tapi lo bantuin gue dulu ya...," pintanya.

Dalam hati, sebenarnya aku sangat ingin memuaskan hasrat Tania. Aku ingin melihat ia tersenyum lega, aku ingin ia mendapat kepuasan dariku. Mungkin hanya dengan itu, suatu saat ia akan menyadari perasaanku yang sebenarnya.

Aku menarik celana dalamnya sampai ke lutut, ia tampak terkejut. Tapi tanpa buang-buang waktu, aku segera menciumi kemaluannya. Aku jilati bibir vaginanya yang sudah lembab itu. Aku cium, aku hisap, aku jilat klitorisnya.

Tania menjerit.

"Adiii... ahhh gila lo... lo apain mem3k gue... aaaggghhh..."

Sambil mengelus-elus pahanya, aku terus menjilati bibir vaginanya sampai beberapa menit, dan dengan jilatan yang semakin cepat, tiba-tiba saja tubuhnya melengkung dan pahanya menegang, menjepit kepalaku hingga aku sulit bernafas.

"Aaaaahhhh! Gue sampeee... uuh..."

Beberapa detik kemudian ia telentang lemas dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia tersenyum padaku, dadaku terasa hangat. Bersamaan dengan itu nafsuku semakin meledak-ledak.

Kudekatkan kontolku ke vaginanya, lalu kugesek-gesek pelan. Ia kembali mendesah. Lalu kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya.

"Tan... gue pengen coba masukin... boleh ya?" ucapku dengan nafas memburu.

"Jangan Di, gue masih virgin, gue ngga mau."

"Pliis Tan, gue ngga tahan...," aku masih menggesek-gesekkan kontolku di bibir vaginanya.

"Jangan Di, jangan. Lo sahabat gue, makanya gue percaya sama lo, lo kan udah janji. Stop ya, plis..."

Aku menatap matanya dengan wajah memelas, "Tan... sebenarnya gue...."

"Gini aja, lo boleh minta apa aja sama gue. Tapi jangan yang satu itu ya? Itu mau gue jaga untuk seseorang yang spesial buat gue, buat cowo yg benar-benar gue sayang. Maaf banget, lo ngerti kan?"

Deg! Ada sesuatu yang menyesak di dadaku. Apa maksudnya dengan perkataan tadi? Apa baginya aku bukan orang yang spesial? Bukan orang yang dia sayangi? Apakah ada lelaki lain yang ia sukai? Bodoh, apa yang aku pikirkan? Sejak awal ia memang tidak punya perasaan apa-apa padaku, dan aku belum pernah mengungkapkan apa-apa.

Tiba-tiba saja aku patah hati. Apakah perasaanku bertepuk sebelah tangan? Tapi aku tetap menghargainya, aku tak ingin menyakitinya.

"Kalo... kalo pake mulut mau ngga Tan?" ucapku.

Ia terdiam sejenak, namun dengan sedikit ragu-ragu ia mengangguk.

"Iya..., tapi keluarin di luar ya..."

Aku mengangguk.

Tania bangkit dari posisi tidurnya, lalu ia meraih kontolku yang masih tegang. Tangannya yang halus dan jari-jarinya yang lentik mulai mengocok batang kemaluanku. Aku mendesah pelan.

"Gue coba praktekin yang di film tadi ya, hehe," iya tersenyum.

Pelan-pelan bibirnya mendekat ke ujung kontolku , lalu ia mengecupnya pelan. Lidahnya ia gunakan utuk menjilat bijik kemaluanku. Lalu dengan agak canggung ia mulai memasukkan kontolku ke mulutnya. Ia menyedot pelan, bibirnya terlihat monyong.

"Mmmm.. Slrppp... Sruupp"

Tubuhku gemetar merasakan nikmat, sekarang gadis yang kusukai ini sedang duduk di hadapanku dan menghisap kontolku dengan mulutnya.

Tapi perasaan getir karena patah hati itu juga menodai pikiranku.

Dengan nafsu dan kekecewaan yang membara, aku memegang kepala Tania, kutahan agar kepalanya tak bergerak. Lalu aku memompa pinggulku hingga kontolku keluar masuk di mulutnya. Ah, maafkan aku Tania, tapi aku benar-benar tidak tahan.

"Mmmm Mmppppp!!!" Tania berusaha berontak dan mendorong pinggangku. tapi tenagaku lebih kuat.

Kupercepat genjotanku, untungnya kontolku tak terlalu panjang, jadi mudah-mudahan tidak membuat ia terlalu mual.

Dari bawah, tania mendongak dan menatapku tajam. Sepertinya ia kesal. Tapi aku tak bisa menghentikan ini, terus saja kugenjot mulutnya. Rasa nikmat menjalar dari kontolku sampai ke tulang belakang, dan pada satu titik aku merasa akan meledak.

Kutekan kepalanya ke arah kontolku , dan saat itu juga aku mengalami ejakulasi.

"Aaaaah....!" Crot! Crot! Crot! Spermaku muncrat ke dalam mulut dan tenggorokan Tania.

Aku terduduk lemas di atas tempat tidur. Kusaksikan Tania yang sedang terbatuk-batuk, mulutnya penuh dengan spermaku.

"Sori.. sori banget Tan. Gue ngga tahan," ucapku.

"Sialan! Masih untung ngga gue gigit kont0l lo itu, kalo gue gigit sampe putus baru tau rasa lo...." ujar Tania, sambil mencoba mengeluarkan sisa sperma dari mulutnya.

Aku mengambil tisu di samping tempat tidur dan membantu mengelap sperma di mulut Tania. Aku berusaha tersenyum untuk meredakan amarahnya.

"Gue kelepasan tadi..."

"Kan udah gue bilang, keluarinnya di luar...," ia mencubit perutku, "...tapi rasanya aneh banget ya? Lengket lagi..."

"Mana gue tau," aku tertawa.

Tubuh kami terasa lemas. Setelah emosinya reda, kami kembali dapat bercanda dengan normal. Malam itu ia tidur di kamarku, tanpa busana, hingga pagi menjelang. Aku mulai mempertimbangkan perasaanku sendiri.

Besok paginya, ia terbangun lebih dulu dan membangunkanku dengan sebuah pertanyaan.

"Adi, kita masih temenan kan?"

Aku mengangguk. Aku tak tahu harus menjawab apa.

"TTM," ucapku singkat.

"Teman Tapi Mesum?" balasnya sambil tertawa. Aku ikut tertawa.