Blog Cerita Seru Paling Mantap

Pengalaman Waktu Kecil Bersama Nita dan Amanda

Ini pengalamanku ketika masih kecil. Aku adalah anak-satu-satunya dan kami tinggal di rumah susun di lantai paling atas. Kedua orang tuaku kerja, sehingga sepulang sekolah aku selalu sendirian di rumah. Aku waktu itu masih kelas 5 SD. Biasanya makan sudah disediakan ibuku nasi di magic jar dan lauknya biasanya, nugget, telor . Kalau lauk tidak ada biasanya aku ngambil di warung di bawah yang beda blok. Ibuku memang sudah pesan kepada Mpok warung untuk mencatat saja apa yang aku ambil. Sepulang sekolah aku biasa bermain dengan teman-teman sebayaku. Sayangnya di lantai atas tidak ada sebaya ku. Penghuninya semua ngontrak. Di lantai bawah juga tidak ada anak-anak sebayaku. Bahkan di blok ku tidak ada anak yang bisa kuajak bermain. Aku harus jalan ke beberapa blok untuk menemui teman-temanku. Itulah keseharianku. Suatu hari unit di depan rumahku ditempati orang baru. Ketika datang berkenalan ke rumah ku, mereka kuketahui adalah Ibu muda yang baru bercerai, mempunyai anak satu orang cewek, sepantaran dengan aku, namannya Nita. Ibu muda itu juga bekerja, sehingga Nita juga ditinggal sendiri di rumah jika siang hari. Ibunya mengikuti cara ibuku yakni meminta anaknya beli lauk atau bahkan termasuk nasinya di bawah di warung Mpok warung. Awalnya aku malu mau mengajak main Nita, karena dia cewek, sedang aku cowok. Namun Nita yang mulai mengajakku main. Dia mulanya menunjukkan kepada ku beberapa mainannya. Dia tidak seperti anak cewek sebab mainannya bukan boneka, tetapi robot-robot dan mobil model. Aku tentu saja senang bermain seperti itu, karena aku juga suka robot-robotan dan mobil-mobilan. Kami akhirnya setiap hari main berdua. Karena pintu rumah kami berhadap-hadapan, jadi kalau tidak main di rumahnya maka dialah yang main ke rumah ku. Meski dia cewek dan aku cowok, tidak ada rasa seperti orang berpacaran. Mungkin karena umur kami masih muda maka hal-hal seperti itu tidak terpikirkan. Malah kadang-kadang aku tidur bareng, maksudku karena ngantuk kami sering tidur di sofa, tapi bukan tidur berhimpitan. Kadang aku tidur di bawah dia tidur di sofa. Lantai atas rumah susun tempat kami kalau siang sepi sekali. Selain karena tidak ada anak-anak yang main naik sampai ke lantai atas, penghuni rumah susun semuanya bekerja. Kami sering memutar vcd, tetapi ya cerita yang berkaitan dengan kegemaran anak-anak. Sampai suatu hari aku secara tidak sengaja menemukan VCD porno yang tertinggal di dalam player. Aku terkejut dan antusias sekali menonton tayangan yang baru pertama kali kulihat. Meski masih kecil aku terangsang juga melihat adegan-adegan yang ditayangkan. Setelah selesai menonton aku penasaran ingin memberitahu Nita mengenai film porno. Aku mengajaknya menonton film porno. Aku memberi tahu Nita bahwa aku punya film baru yang bagus. Selesai makan siang aku mulai memutar film porno itu. Mulanya adegan mesra, aku mengenalnya setelah dewasa adegan awal itu adalah x satu. Filmnya memang mempunyai alur cerita, menjelang pertengahan kemesraan bertambah hot dan adegan pasangan mulai bugil. Nita menutup mata, katanya jorok. Tapi itu hanya sebentar, karena aku biarkan saja dia menutup matanya. Setelah itu kemudian dia juga nonton lagi. Menjelang bagian akhir terpampanglah adegan XXX yang memperlihatkan adegan orang berhubungan sex dengan tayangan yang detil mengenai alat kelamin pria dan wanita. Nita kembali menjerit dan menutup mata, tapi dia nonton lagi sampai filmnya habis. Selesai menonton kami terdiam. Aku tanya Nita, apa dia pernah menonton film seperti itu. Dia hanya menggelengkan kepala. Nita kelihatannya shock dengan adegan-adegan film itu. Setelah menonton film kami kembali bermain seperti biasa. Dan tidak ada kejadian yang aneh. Besoknya Nita tanya, apa ada lagi film seperti yang kemarin. Aku mencari di tumpukan VCD, tidak ada lagi. Bahkan film yang kemarin pun sudah tidak tahu disimpan dimana. Aku memang penasaran dengan film porno, maka aku mencari-cari di lemari orang tuaku, sampai ke koper yang diletakkan di bagian atas. Ternyata di koper itu banyak sekali film-film porno. Orang tuaku berpikir mungkin aku tidak bakal menjangkau koper di atas lemari, karena tempat tinggi tidak mungkin dijangkau oleh anak sebesar aku. Aku datangi Nita dan mengatakan bahwa aku punya film porno lagi. Dia antusias mengajakku menonton lagi. Aku memutar film-film koleksi orang tuaku. Akhirnya hampir setiap siang kami berdua kerjanya menonton film porno. Aku memang terangsang karena kontolku berdiri waktu menyaksikan adegan sex, aku tidak tahu Nita apakah dia juga terangsang. Aku pikir perempuan tidak terangsang, karena setahuku tidak punya penis jadi tidak ada yang menegang. Sejak menonton film porno rasa ingin tahuku mengenai sex jadi menggebu-gebu. Aku ingin melihat kemaluan wanita itu sesungguhnya seperti apa. Mungkinkah Nita bisa dibujuk untuk memperlihatkan kemaluannya, rasanya aku tidak punya keberanian meminta hal seperti itu kepada Nita. Sampai suatu hari Nita bertanya kepadaku, bagaimana sih bentuk kemaluan laki-laki. Aku terkesiap dan menjawab, ya seperti yang difilm itu. “Boleh nggak aku lihat kamu punya, “ katanya. Mendengar pertanyaannya kontolku langsung menegang. Dalam benakku aku juga ingin melihat kemaluan Nita. Aku bilang boleh-boleh aja, tetapi tutup dulu pintu rumahmu dan di kunci, lalu aku pun menutup pintu rumah ku dan ku kunci. Dengan berdebar-debar aku duduk di sofa dan pelan-pelan menurunkan celanaku. kontolku terpampang berdiri tegak. Nita memperhatikan kontolku dari dekat. Kata dia bentuknya lain tidak seperti di film dan aku punya kecil dan tidak berbulu. Aku katakan karena masih anak-anak maka belum tumbuh bulu dan juga sesuai dengan besar badan anak-anak. Aku memang sudah sunat sejak kelas 4 maka kontolku mengkilat di ujungnya. “Ih lucu bentuknya, aku boleh pegang nggak,” katanya. Sebelum aku menjawab tangannya sudah meraih kontolku . Jarinya menekan-nekan kontolku yang sedang keras. Aku merasakan sensasi kenikmatan sampai aku tidak sadar mendesis. Nita terkejut. Dia bertanya, apakah aku merasa sakit waktu dia pegang. Aku katakan bukan sakit tapi rasanya enak. Dia kemudian tidak hanya memegang batang kontolku tapi juga menyentuh kantong zakarku. Aku merasa makin nikmat. Nita heran, kenapa keras seperti ada tulangnya dan dia bertanya mengenai kantung zakar. “Ini apaan ,” katanya sambil meraba kantong zakarku. Kujelaskan bahwa itu buah pelir, didalamnya ada sepasang buah pelir. Diberitahu seperti itu Nita malah menekan-nekan kantungku untuk meyakinkan apa memang benar ada dua buah di dalamnya. “ Ih lucu ya nggak kayak aku punya,”. Setelah dia puas memandangiku celana kunaikkan lagi. Rasa nikmat masih menjalari tubuhku. Rasanya sentuhan Nita tadi masih berbekas di kemaluanku. Aku lalu minta Nita juga memperlihatkan kemaluannya. Dia menolak, malu katanya. Aku langsung protes, karena Nita curang. “Gimana ya, tapi sebentar aja ya,” katanya. Aku menganggukkan kepala. Nita menurunkan celananya sampai ke lutut, lalu dia duduk di sofa. Roknya diangkat sampai ke pinggang. Aku melihat kemaluan Nita seperti belahan pantat tetapi kecil. Kemaluan Nita juga tidak ada bulunya. Aku makin penasaran karena yang terlihat hanya seperti belahan pantat saja. Aku minta Nita membuka lebar kakinya, tapi dia menolak malah menaikkan celananya kembali. Aku kembali protes, karena Nita tadi kuperbolehkan memegang aku punya, sedangkan dia hanya memperlihatkan sebentar saja. Aku minta dia membuka kembali celananya sampai ke bawah sehingga bisa melebarkan kakinya. Nita terdiam sebentar lalu berdiri dan melepas seluruh celana dalamnya. Dia duduk di sofa sambil mengangkang. Aku merangkak di depan kemaluan Nita. Terlihat bagian dalamnya berwarna merah dan di bagian bawah ada celah. Aku juga ingin memegang kemaluan Nita. Ketika tanganku meraih kemaluannya, dia menepisku. Aku kembali protes. Dia lalu membolehkan. Nita duduk bersandar sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Kemaluan Nita aku buka, sehingga terlihat bagian dalamnya seperti ada daging tumbuh memanjang ke bawah. Lubang kemaluannya aku buka, Nita protes katanya sakit. Jariku menekan-nekan bagian dalam kemaluannya . Pada bagian atas ketika aku tekan-tekan Nita mendesis dan katanya geli. Aku berpikir aneh sekali kemaluan wanita bentuknya tidak beraturan dan lubang kencingnya besar. Aku mengira-ngira bagian lubang kencing itulah yang kalau difilm dimasuki oleh kemaluan laki-laki. Aku mencoba mencolok lubang kencing itu, tetapi tanganku ditarik Nita, katanya sakit. Tanganku terasa agak basah terkena cairan kemaluan Nita. Aku kembali menekan-nekan daging yang seperti kelopak, kaku di atasnya. Setiap kali kusentuh bagian atas itu, Nita mendesis dan katanya geli sekali. Itulah awal kami melihat kemaluan, masing-masing . Kejadian siang itu terus terbayang-bayang. Aku kemudian tahu setelah dewasa bahwa yang ku kira lubang kencing itu adalah vagina. Kami masih sering nonton film porno. Aku tanya kepada Nita bahwa kelihatannya permainan di film itu orangnya seperti merasa enak. Dia menjawab “kayaknya memang iya, apa nggak sakit ya.” Sebab menurut Nita ketika tanganku mencolok bagian dalamnya dia merasa sakit. Tapi dia mengaku ada bagian yang kalau aku sentuh rasanya geli-geli enak. Aku jadi penasaran ingin tahu bagian yang mana yang dia maksud. Aku memintanya kembali memperlihatkan kemaluannya untuk kuperiksa bagian mana yang katanya kalau disentuh rasanya enak. Nita sekarang sudah tidak malu lagi, dia langsung membuka celananya dan duduk mengangkang di depanku. Dia menunjukkan bagian yang selalu terasa enak kalau disentuh. Aku kemudian menekan-nekan bagian itu dengan satu jari. Nita setiap kali aku tekan-tekan dia mendesis-desis, katanya enak sekali tapi juga geli. Aku menekan-nekan terus, tapi lama-lama aku bosan. Aku minta Nita gantian memegang-pegang kemaluanku. Kupelorotkan celanaku dan nita mulai mmegang-megang kemaluanku. Awalnya hanya ditekan-tekan dengan dua jari, Aku kemudian minta dia menggenggam. kontolku rasanya makin nikmat digenggam tangan Nita. Aku minta dia menggoyang-goyangkan tangan dengan gerakan seperti mengocok. Aku sebenarnya waktu itu belum mengerti soal onani. Perintahku agar Nita mengocok waktu itu mungkin hanya naluriku saja, yang menginginkan begitu. Aku minta dia terus mengocok sampai datang rasa dorongan dari dalam seperti stroom dan kontolku berkedut-kedut. Setelah dewasa aku tahu waktu itu aku mengalami orgasme. Tapi kuingat waktu itu tidak ada sperma yang keluar. Aku memang belum akil balik, sehingga mungkin belum mempunyai sperma. Aku ketika orgasme setengah berteriak. Nita terkejut dan dia langsung berhenti. Lalu bertanya. Aku jawab rasanya enak banget, sampai diubun-ubun rasa enaknya, kata ku. “Enak gimana sih,” tanya Nita penasaran. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa enaknya, tapi pokoknya enak banget. Sejak itu setiap hari aku minta dikocok sama Nita. Dia mau saja ku suruh begitu. Aku kemudian ingin seperti di film, kontolku ingin dioral, penasaran mau tahu rasanya. Nita ketika akan meniru seperti yang difilm, dia menolak, katanya jijik. Aku bilang aku cuci dulu pakai sabun sampai bersih. Lama aku membujuknya sampai akhirnya dia mau setelah kubersihkan dengan sabun. Pertama rasanya kurang enak dan agak sakit. Sebab kontolku seperti dia gigit. Aku minta dia jangan menggigit, rasanya nggak enak, pakai bibir saja dan dijilat dan disedot. Nita yang mulanya agak jijik, lama-kelamaan bisa juga mengoral kontolku . Aku merasa lebih nikmat dibandingkan dengan menggunakan tangan. Semula Nita berhenti sebelum aku mencapai nikmat. Lalu dia kuminta sampai aku mencapai nikmat. Aku mengerang-erang ketika orgasmeku tiba. Berkali-kali kemudian aku selalu dioral Nita. Dia akkhirnya penasaran, mengenai bagaimana enaknya. Aku menawarkan menjilati kemaluannya, tapi ku minta dicuci dulu. Dia menuruti dan setelah itu duduk mengangkang di sofa. Aku duduk di bawahnya dan mulai mencoba menjilati. Mulanya aku juga merasa jijik. Tapi karena tidak ada baunya aku teruskan menjilat-jilat semua bagian kemaluannya. Nita merasa tidak nikmat, kecuali kalau lidahku menyentuh satu bagian. Dia tunjukkan bagian yang dia rasa nikmat tapi geli. Aku mencoba menjilati bagian itu. Nita mengelinjang-gelinjang. Aku kira dia kegelian. Aku teruskan , tapi lama-lama lidahku capek . Ketika aku berhenti Nita malah menekan kepalaku dan menyuruh melanjutkan. Supaya lidahku tidak capek menjulur keluar mulut, maka mulutku kubekapkan saja ke kemaluan Nita, lalu lidahku kembali menjilati bagian yang diinginkan Nita. Nita kembali menggelinjang-gelinjang. Aku memperhatikan bagian yang jika disentuh dia menggelinjang. Bagian itu terus aku jilati sampai tiba-tiba Nita menekan kepalaku dan dia minta aku berhenti, “Stop-stop,” katanya. Nita juga mengerang lirih. Aku bertanya mungkin dia merasa sakit. Kata dia nikmat sekali. “ Kayak gini ya enaknya yang kamu rasakan kalau aku isap, “kata Nita setelah itu. “Enak banget ya.” Katanya. Setelah itu rutinitas kami selalu melakukan oral. Kadang-kadang aku lupa habis makan pedas lalu mengoral Nita, Dia mengeluh kemaluannya terasa pedas. Aku pun pernah begitu. Kami kemudian sepakat untuk gosok gigi dulu sebelum mengoral. Kami sebaya belum genap berusia 10 tahun, tetapi sudah ahli mengoral masing-masing pasangan. Jika pertama dulu kami melakukannya dengan tetap memakai baju, sekarang ikut seperti di film kami telanjang bulat. Pada waktu itu kuingat Nita belum membesar payudaranya, masih rata. Setelah mengoral kami sepakat untuk mencoba memasukkan kontolku ke lubang vaginanya. Nita juga ingin tahu rasanya. Setelah kami merasakan nikmatnya oral kami penasaran rasa nikmatnya jika kemaluan kami beradu. Mengikuti apa yang digambarkan di film, aku mencoba menekan kemaluanku ke vagina Nita tapi selalu tidak berhasil. Nita juga merasa kesakitan. Setelah sekian kali gagal aku berpikir mungkin perlu pelicin. Aku mengolesi kepala kontolku dengan hand body lotion. Aku mencoba lagi dan menekan pelan-pelan tepat di lubang vagina Nita. Kepala kontolku tenggelam. Nikmat mulai menjalar di tubuhku. Aku menekan terus, tetapi Nita menjerit kesakitan. Dia menangis, sakit, katanya. Kami pun berhenti. Aku kecewa karena rasa nikmat ketika kepala kontolku tadi masuk tidak tuntas. Besoknya aku masih penasaran. Kami mencoba lagi dengan aku mengolesi cream. Kepala kontolku bisa terbenam, Nita tetap mengeluh sakit, tetapi tidak seperti kemarin. Ketika kudorong lagi, Nita menahanku, katanya sakit sekali. Padahal kontolku terasa lebih banyak tengelam di vagina Nita. Kami berhenti lagi dan aku kembali kecewa. Kami lakukan hal itu berulang-ulang sampai mungkin seminggu. Ketika sudah seminggu kontolku bisa masuk sekitar setengah batang. Aku tidak bisa maju lagi karena rasanya seperti buntu. Jika kupaksakan kata Nita sakit. Tapi kalau tidak kupaksa dia tidak merasa sakit. Aku kemudian memaju mundurkan setengah batangku keluar masuk. Nikmatnya luar biasa, lebih nikmat dari pada di oral. Aku sampai mencapai orgasme. Aku mengira lubang vagina Nita sudah buntu karena masih kecil. Jadi belum bisa menerima kontolku sepenuhnya. Nita tidak merasakan nikmat, jika aku masukkan kontolku . Tapi aku merasa nikmat sekali. Oleh karena itu aku selalu memintanya. Kami setiap waktu selalu melakukan hubungan, sampai suatu waktu aku tanpa sengaja dalam bergerak keluar masuk terlalu keras mendorong kontolku ke dalam vagina. Nita menjerit dan aku pun terkejut, sebab kemaluanku bisa masuk semua. Aku berhenti dan mengeluarkan batang kontolku . Ada darah di seputar kontolku , kemaluan Nita berdarah. Dia menangis lalu ke kamar mandi mencuci darah. Jalannya agak aneh, kata dia kemaluannya sakit. Aku jadi takut. Kalau dia berjalan seperti itu, nanti ibunya curiga dan tanya kenapa jalannya agak ngengkang. Nita kuajak latihan jalan dan turun tanggal lalu jalan ke sekitar kompleks. Lama-lama jalannya mulai normal dan kami kembali ke rumah. Sejak saat itu hampir sebulan kami tidak melakukan aktivitas sex. Namun karena sudah mengenal rasa yang nikmat aku kembali mengajak Nita untuk berkativitas sex lagi. Nita tidak menolak dan kata dia sakitnya sudah hilang. Aku kembali mencoba memasukkan kontolku , tetapi gagal. Baru kuingat harus dioelsi cream. Setelah dioles cream, kontolku lebih mudah masuk ke dalam vagina Nita. Aku pelan-pelan mendorong masuk kontolku dan ternyata sampai semua masuk tertelan. Aku merasakan sensasi rasa yang nikmat. Nita masih merasakan sakit, tetapi katanya sudah tidak terlalu sakit seperti yang dulu. Aku perlahan-lahan melakukan gerakan memompa, rasanya enak sekali. Gerakan aku percepat dan tidak lama kemudian aku menapai orgasme dan kontolku melemas di dalam vagina Nita. Nita mengatakan dia tidak merasakan enak. Malah dia bilang lebih enak dioral, dari pada ditusuk-tusuk. Dia minta aku mengoral setelah aku mencapai orgasme tadi. Kegiatan kami selanjutnya hampir setiap hari selalu melakukan hubungan badan, tetapi Nita minta dioral dulu. Aku merasakan jika aku oral dulu, kontolku lebih mudah masuk karena vaginanya terasa lebih licin. Kami tidak lagi menonton film porno karena sudah tahu dan merasakan nikmatnya seperti yang dimainkan di film itu. Kami semakin akrab dan berlangsung sampai ke kelas 6. Badan Nita sudah semakin besar dan dia mulai mempunyai payudara, meski pun kecil. Suatu hari Nita memperkenalkan temannya, Amanda. Dia tinggal di kompleks rumah susun ini tetapi agak jauh dari blok kami. Amanda adalah teman sekelas Nita. Amanda cantik, lebih putih dan kelihatannya lebih berkembang dibanding Nita. Nita membocorkan kepada Amanda, bahwa kami sering nonton film porno. Amanda menurut Nita belum pernah nonton film gituan. Dia ingin tahu seperti apa, film porno. Nita memintaku memutar film porno. Rumah kami kunci dan aku memilih film porno Asia. Suara dari TV kami kecilkan, khawatir ada orang bisa mendengar dari luar. Amanda duduk berdekatan dengan Nita sedang aku duduk di kursi terpisah. Amanda menutup mulut dan hidungnya setiap kali ada adegan yang vulgar. Reaksinya berbeda dengan Nita yang waktu itu menutup matanya. Setelah film selesai diputar muka Amanda kelihatan bersemu merah. “ Serem,” katanya. Kami kemudian terlibat ngobrol seperti biasa obrolan anak-anak. Menjelang sore Amanda pamit pulang. Aku menarik Nita, dan menegurnya kenapa dia sampai membocorkan rahasia di rumah ini. Kalau ketahuan apalagi di sekolah. Kita bisa malu. Nita mengatakan bahwa Amanda adalah teman sebangkunya. Amanda sendiri yang bercerita bahwa dia pengin melihat film porno. Menurut istilah mereka bokep. Di rumahnya meski ada DVD tapi karena banyak orang tidak mungkin memutar film seperti itu. Di sekolah banyak temen-temennya punya film bokep. “ Jadi aku tawari, kalau mau nonton film gituan, di rumah ku ada,” kata Nita. Dia berjanji akan menjaga rahasia. “ Anak cewek kan malu kalau cerita-cerita soal film bokep, emang cowok yang mulutnya ngablak,” kata Nita. Perkataan Nita ada benarnya, cewek lebih kuat menjaga rahasia soal onerdil dalam. Acara kami jadi berubah sering nonton film bokep. Kami jadi terbiasa dan muka Amanda tidak merah lagi. Sampai suatu hari Amanda ngomong, “gimana sih rasanya, kok kelihatannya mereka keenakan.” Aku langsung terdiam dan saling pandang dengan Nita. “ Emangnya kamu pengin tahu rasanya “ tanya Nita. “Ehmm gimana ya, pengin tahu aja, abis penasaran liatnya kok mereka sampai teriak-teriak,” kata Amanda polos. Nita lancang sekali rasanya waktu itu. Dia bilang ama Amanda, kalau mau tahu rasanya harus bisa pegang rahasia. “ Emang rasanya bisa dirahasiakan, gimana sih gue nggak ngerti,” kata Amanda polos. Dasar kami pada waktu itu masih anak-anak polos, jadi kurang bisa berbicara diplomatis. “ Kalau kamu janji pegang rahasia, nanti bakal tahu rasanya,” kata Nita. Aku berdebar-debar dan salah tingkah. Aku tidak menyangka Nita bisa bicara senekat itu. “Ya deh gue swuer bakal pegang rahasia, tapi apaan sih,” kata Amanda polos. Nita menjelaskan kepada Amanda bahwa aku bisa mengajari Amanda untuk merasakan. Nita nyrocos begitu saja tanpa minta persetujuan ku. Aku jadi belingsatan. Aku merasa rikuh dan tidak tahu harus ngomong apa. “ emang kamu ngerti bisa ngajari aku supaya tahu rasa kayak yang difilm itu,” tanya Amanda. Belum aku menjawab, Nita sudah memotong pembicaraan dengan mengatakan, “udahlah tenang aja.” Nita menjelaskan untuk mau diajari, Amanda tidak boleh malu, harus mau telanjang seperti di film itu. Amanda terperanjat, mukanya merah. Tapi dia sepertinya sudah terjebak oleh kata-katanya sendiri, sehingga tidak bisa berkata apa-apa. Nita mulai membuka kancing baju Amanda. Diperlakukan begitu Amanda bingung. Dia agak menahan-nahan gerak Nita. Melihat keraguan Amanda, Nita lalu berdiri dan segera membuka semua bajunya sendiri dan celana dalamnya sampai dia telanjang bulat. Amanda makin bingung dan terpaksa merelakan tubuhnya dikuliti Nita. Setelah mereka telanjang bulat, Nita mengajak Amanda ke kamar mandi untuk mencuci bagian vitalnya. Amanda kembali dan berjalan sambil menutup kemaluan dan dadanya. Nita memerintahkan Amanda yang masih kebingungan untuk duduk di sofa dan merenggangkan kedua kakinya. Tangannya masih tetap menutup kemaluannya. Amanda lalu memerintahkan aku untuk mengoral Amanda. Aku meski rikuh tapi terangsang juga. Body Amanda harus kuakui lebih bagus dari Nita yang cenerung kerempeng. Amanda lebih berisi. “Lu diam saja dan kalau malu tutup mata,” kata Nita sambil mendorong tubuh Amanda agar bersandar ke sofa. Nita memerintahkan aku segera memulai. Ku pegang kedua paha amanda. Amanda terkejut, lalu diam. Badannya kaku dan dingin. Ketrampilanku mengoral sudah canggih berkat latihan lama bersama Nita. Aku mulai menjilati sekitar kemaluan Amanda yang tampak gemuk dan gundul. Amanda memegang kepalaku seperti gerakan menahan. Dia merasa kegelian. Aku tahu karena mungkin belum dicium teteknya. Aku lalu naik memegang kedua payudaranya yang sudah tumbuh cukup besar, paling tidak lebih besar dari milik Anita yang baru tumbuh. Ketika tanganku meremas payudara Amanda, tanggannya seperti agak menahan tanganku, tapi aku tetap bisa meremas kedua payudaranya. Aku kemudian mulai menjilati kedua putingnya yang kecil. Amanda merintih kegelian. Namun tidak lama kemudian dia memegang kedua kepala ku dan badannya mengeliat-geliat. Payudara Amanda rasanya kenyal sekali, aku suka sekali. Sambil menyiumi kedua susunya, tanganku memainkan kemaluannya dan menyentuh di bagian yang pada Nita dirasa paling geli dan enak. Setiap kali bagian itu tersentuh, Amanda menggelinjang. Setelah puas menciumi payudara, aku mulai turun ke perut dan langsung ke bagian kemaluan yang membuat Amanda selalu bergelinjang jika tersentuh. Amanda bingung, sampai dia bangkit ingin melihat apa yang akan aku lakukan. “ Ih apa nggak jorok sih,” katanya. Nita mendorong tubuh Amanda sampai dia bersandar lagi. Aku mulai memainkan lidah di kemaluan Amanda . aku paham benar bagian mana yang harus dijilat. Amanda mengelinjang sambil terus berdesis-desis. Dia berkata lirih, “ aduh enak banget….” Tidak lama kemudian amanda berteriak “ aku mau pipis, aduh-aduh.” Aku tahu bahwa dia akan mencapai kepuasan, maka aku terus membenamkan kepala keselangkangannya. Amanda lalu bergetar badannya dan kakinya menjepit kepalaku lalu tangannya menekan kepalaku. Kemaluannya berdenyut-denyut. Selesai orgasme Amanda terduduk lemas. Nita menanyakan gimana rasanya, “Enak ?” Amanda hanya mengangguk . “ Gila enak bener, seumur-umur gua belum pernah ngrasain yang kayak gini.,” kata Amanda. Aku lalu duduk kembali di kursi dan membiarkan kedua cewek itu jalan ke kamar mandi. Mereka mencuci onderdilnya. Sejak saat itu Amanda rajin main bersama kami dan selalu mendapat service oral. Dia kemudian juga mengoralku diajari Nita. Namun aku sekarang jadi melayani dua cewek. Nggak disangka ternyata nafsu Amanda lebih besar dari Nita. Sebab dia kadang-kadang minta sampai dua kali dioral dalam sehari. Lidahku jadi kelu menuruti kemauannya. Aku menawarkan Amanda untuk bermain seperti di film yaitu memasukkan penis ke dalam vaginanya. Amanda ragu, karena dia merasa dia tidak punya lubang vagina sebesar yang tampil di film. Aku bilang bahwa milikku juga tidak sebesar yang difilm. Mungkin karena nafsunya dan rasa penasaran, Amanda kemudian bersedia mencoba. Seperti juga Nita, aku tidak bisa sekali jalan membenamkan kontolku . Perlu waktu sampai hampir sebulan kontolku baru masuk penuh kedalam vagina Amanda. Jadinya Amanda malah ketagihan. Aku pada waktu itu tidak mengerti bahwa wanita juga harus dilayani orgasmenya dalam persetubuhan. Tapi aku perhatikan kadang-kadang Amanda menjerit lirih, tapi kadang-kadang usai permainan dia diam saja. Amanda hampir setiap hari selalu minta jatah. Kami sering main bertiga. Jadi aku bisa sampai orgasme dua kali. Sejauh itu aku belum mengeluarkan sperma pada saat orgasme. Namun kuperhatikan kontolku selalu basah kuyup jika kulepas dari gengaman vagina mereka berdua. Katanya mereka juga belum mendapat haid. Kami terus berintim ria sampai aku SMP dan mulai memancarkan sperma dan Mereka mendapat haid. Aku tidak tahu bahwa sperma yang kulepas di dalam vagina merka bisa mengakibatkan hamil. Tapi sejauh itu mereka tidak hamil, sampai akhirnya aku pindah bersama orang tuaku yang membeli rumah baru agak di pinggir kota. Nita pun kabarnya juga sudah tidak tinggal di rumah susun. Bagi Nita dan Amanda jika membaca cerita ini, aku minta maaf menyebut nama kamu tanpa kuganti. Kurasa tidak bakal ada orang yang tahu kisah kita. Itu juga sudah terjadi lama sekali, ketika kita masih kanak-kanak.

No comments:

Post a Comment